Showing posts with label TNKS. Show all posts
Showing posts with label TNKS. Show all posts

Monday, January 13, 2014

Misteri Uhang Pandak

Gbr. Sketsa pensil W. Weatcroft (Januari 2008) sosok Uhang Pandak

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) banyak menyimpan misteri, salah satunya adalah tentang mahluk atau orang bunian yang dipercaya merupakan komunitas manusia hutan. Masyarakat setempat menyebutnya "Uhang Pandak" yang berarti orang bertubuh pendek atau orang pendek. Mereka adalah mahluk yang hidup di atas tanah, berjalan dengan kedua kakinya dengan tubuh di penuhi bulu-bulu pendek yang berwarna abu-abu hingga coklat dan memiliki tinggi tubuh sekitar 80 cm sampai 150 cm.

Cerita tentang Uhang Pandak telah di kisahkan secara turun-temurun di dalam kebudayaan masyarakat sekitar terutama Suku Anak Dalam (SAD) yang hidup di belantara hutan TNKS. Mungkin bisa dikatakan, Suku Anak Dalam atau suku kubu telah hidup berdampingan dengan Uhang Pandak di kawasan tersebut. Walaupun demikian jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada.

Uhang Pandak merupakan mahluk yang keberadaanya telah diketahui sejak puluhan tahun lalu, namun hingga saat ini sulit menemukan bukti fisik dan otentik tentang keberadaan mahluk ini. Keberadaan mahluk ini sendiri sering dilaporkan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan mahluk Uhang Pandak, banyak dari wisatawan dan peneliti dari mancanegara yang melakukan riset tentang alam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) secara tidak sengaja bertemu dengan kumpulan mahluk yang disebut Uhang Pandak ini.

Kesaksian yang paling terkenal adalah kesaksian Mr. Van Heerwarden pada tahun 1923. Beliau adalah seorang Zoologiest, yang pada saat itu sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Beliau menuliskan tentang pertemuannya dengan beberapa mahluk gelap dengan banyak bulu di badannya. Tinggi tubuh mereka beliau gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Van Heerwarden sadar, mereka bukan sejenis siamang atau primata lainnya. Ia tahu mahluk-mahluk itu menyadari keberadaannya saat itu, sehingga Uhang Pandak itupun berlari menghindari manusia.

Satu hal yang membuat Mr. Van Heerwarden terheran-heran, semua mahluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak layaknya manusia berjalan. Semenjak itu, Mr. Van Heerwarden terus berusaha mencari tahu mahluk apa tersebut, namun usahanya gagal dan tidak bisa menemukan kembali mahluk Uhang Pandak tersebut.

Selama tiga tahun terakhir, para peneliti lokal dan mancanegara telah menjelajahi hutan TNKS untuk menemukan bukti-bukti keberadaan komunitas Uhang Pandak. Mereka telah melakukan banyak cara, mulai dari memasang kamera trapping di wilayah hutan terutama daerah dimana sering terjadi laporan penampakan para mahluk tersebut sampai dengan pembuatan perangkap untuk menangkap salah satu dari mahluk itu.  Namun, usaha itu juga gagal dan tidak menemukan bukti-bukti keberadaan Uhang Pandak.

Para ahli merasa kuatir jika memang eksistensi keberadaan Uhang Pandak ini ada, bukan tidak mungking mereka sedang terancam kepunahan sebagai akibat dari aktifitas penebangan hutan dan penghancuran lingkungan atau habitat mereka.

Selain Uhang Pandak banyak komunitas orang bunian lain yang dipercaya oleh masyarakat di berbagai daerah. Sebagian kepercayaan tersebut bahkan mengatakan bahwa komunitas masyarakat orang bunian itu bukan komunitas mahluk halus, namun suatu mahluk yang mirip manusia yang memiliki sedikit perbedaan dengan mahluk manusia. Ada yang beranggapan bahwa mahluk orang bunian adalah ras manusia tersendiri dan merupakan bagian dari ras mahluk manusia kuno. 

Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari mahluk halus, binatang ataupun ras manusia yang berbeda. Dunia tentunya masih menyimpan misteri mereka yang harus terus dilakukan penelitian tentang kebenaran keberadaannya.

Friday, January 10, 2014

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)


Gbr. Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)
Salah satu jenis Harimau (Panthera Tigris) yang masih bertahan hidup di dunia adalah Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Harimau Sumatera merupakan harimau yang habitat aslinya berada di Pulau Sumatera, Indonesia. Harimau Sumatera memiliki ciri-ciri fisik, yaitu : 
  • Harimau Sumatera adalah harimau terkecil di spesiesnya, ukurannya yang kecil ini memudahkannya menjelajahi hutan rimba.
  • Memiliki warna yang paling gelap dari seluruh spesies harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga orange tua.
  • Pola warna hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet.
  • Harimau Sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60 cm.
  • Harimau Sumatera betina rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg.
  • Belang harimau ini lebih tipis daripada spesies harimau lainnya.
  • Memilik banyak janggut serta surai di bandingkan spesies harimau lainnya, terutama harimau jantan.
  • Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
  • Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan harimau ini mampu berenang dengan cepat. harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang.

Harimau Sumatera memangsa seekor babi
Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liarnya yang ada dibawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka  makan dapat terjaga. Hewan ini memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Hewan ini memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. hewan orang utan juga dapat di jadikan mangsa, walaupun jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah dan karena itu jarang di tangkap harimau. Selain itu semua ternyata Harimau Sumatera juga gemar makan buah durian.

Gbr. Hutan TNKS Sumatera
Harimau Sumatera ini mampu hidup dimanapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional TNKS, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian. Juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

Harimau Sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau ini terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali harimau ini ditangkap dan dibunuh karena tersesat memasuki daerah pemukiman warga atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Harimau Sumatera dapat berkembang biak kapan saja, masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun di kebun binatang pernah tercatat ada anak harimau yang lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama, sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada usia 6 bulan. Anak harimau ini dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri atau mandiri. Harimau Sumatera dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.

Gbr. Anak Harimau Sumatera
Harimau Sumatera termasuk satwa langka, dan termasuk ke dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (Critically Endangered). Populasi Harimau Sumatera ini di alam liar diperkirakan hanya tinggal 400-500 ekor saja, terutama hidup di taman-taman nasional Pulau Sumatera. Dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN, menyatakn bahwa Harimau Sumatera ini merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang masih ada di Indonesia setelah dua saudaranya Harimau Bali (Panthera Tigris Balica) dan Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) dinyatakan punah.

Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar Undang - Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan pasal 21 undang-undang ini pada poin (d) menyatakan bahwa "Setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia". Pelanggaran dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta.



Wednesday, January 8, 2014

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)


Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)
Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Taman TNKS ini merupakan Taman Nasional terbesar di Pulau Sumatera, Indonesia. Taman ini memiliki luas wilayah seluas 13.750 km2 dan membentang di 4 (empat) Provinsi di Indonesia, yaitu : 
  • Provinsi Sumatera Barat
  • Provinsi Jambi
  • Provinsi Bengkulu
  • Provinsi Sumatera Selatan

Diterimanya Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera ini masuk dalam daftar situs warisan dunia Unesco, membuat Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan perwakilan taman bertipe ekosistem hutan hujan dataran rendah sampai ekosistem sub-alpin serta beberapa ekosistem yang khas antara lain : rawa gambut, rawa air tawar dan danau.

Taman Nasional Kerinci Seblat terdiri dari Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki wilayah dataran tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci (3.805 m). Taman nasional ini juga terdiri dari : mata air-mata air panas, sungai-sungai beraliran deras, gua-gua, air terjun dan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Tujuh.

Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4.000 jenis tumbuh-tumbuhan (Flora) yang didominasi oleh family Dipterocarpaceae. Tumbuhan yang langka dan endemik seperti : Pinus Kerinci (Pinus Merkusii Strain Kerinci), Kayu Pacat (Harpulia Alborea), Bunga Raflesia (Rafflesia Arnoldi dan Rafflesia Hasseltii), dan Bunga Bangkai (Amorphophallus Titanum dan A. decus- silvae). 

Sedangkan jenis fauna di wilayah taman nasional TNKS ini terdiri antara lain : Harimau Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Macan Dahan, Tapir Melayu, Beruang Madu dan sekitar 370 spesies burung.


Potensi lainnya yang menarik perhatian pengunjung di taman nasional ini adalah seperti pengamatan suara burung Rangkong (Buceros Rhinoceros Sumatranus) dan Julang (Aceros Undulatus Undulatus) serta suara tawa histeri yang menakjubkan dari burung Gading (Rhinoplax vigil), adanya Kucing Emas (Catopuma Temminckii Temminckii) yang sangat misterius, serta adanya misteris yang belum terpecahkan tentang sejenis satwa primata yang berjalan tegak dan cepat sekali menghilang diantara pepohonan, dimana masyarakat setempat menamakannya "Uhang Pandak" atau "Orang Pendek". Selain itu juga Taman Nasional Kerinci Seblat telah dijadikan program pembangunan dan konservasi terpadu (Integrated Conservation Development Program - ICDP).

Beberapa lokasi kunjungan wisata yang menarik di Taman Nasional Kerinci Seblat ini antara lain :
  •  Danau Gunung Tujuh : Melihat panorama danau dan pengamatan satwa.
  • Gua Napal Licin dan Kasah : Melihat komplek gua stalaktit dan stalaknit.
  • Groa Solar, Nguak dan Kunyit : Melihat semburan air panas setinggi 15 m.
  • Letter W : Melihat bunga rafflesia dan bungan bangkai, serta kelinci sumatera.
  • Rawa Ladeh Panjang : Penelitian dan Pengamatan Satwa.
  • Wisata Budaya : Melihat budaya Suku Kubu yang masih tradisional.
Adapun kegiatan yang dapat dilakukan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah :
  • Penelitian dan Pendidikan
  • Pendakian dan Perkemahan
  • Air Terjun
  • Pemotretan dan Pembuatan Film
  • Rekreasi dan Wisata Alam
  • Wisata Budaya Masyarakat sekitar TNKS
Adapun fasilitas yang tersedia, antara lain :
  • Kantor
  • Wisma Tamu
  • Pusat Informasi
  • Shelter
  • Toilet
  • Jalan Trail
  • Menara Pemantau
  • Pondok Jaga
  • Kuliner Daerah
Selain beberapa tempat kunjungan wisata di atas, terdapat juga atraksi budaya di luar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, yaitu : Parade Budaya pada bulan November di Kota Sungai Penuh , Budaya Melayu pada bulan Januari di Kota Jambi dan festival Tabot pada bulan juni di Bengkulu. Musim kunjungan terbaik adalah pada bulan januari sampai oktober setiap tahunnya.

Untuk mencapai lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dapat ditempuh dengan beberapa cara, antara lain :
  • Padang - Tapan - Sungai Penuh (kendaraan darat), 278 km selama 7 jam.
  • Padang - MuaraLabuh - Kersiktuo (kendaraan darat), 211 km selama 6 jam.
  • Jambi - Sungai Penuh (kendaraan darat), 500 km selama 10 jam.
  • Bengkulu - Muara Aman (kendaraan darat), selama 4 jam.
  • Bengkulu - Arga Makmur (kendaraan darat), selama 2 jam.
  • Bengkulu - Lubuk Linggau (kendaraan darat), selama 3 jam.
  • Palembang - Lubuk Lingga (kendaraan darat), selam 6 jam.
  • Lubuk Linggau - Muara Rupit - Sarolangun - Napal Licin (kendaraan darat), selama 4 jam.
  • Muara Rupit - Napal Licin 9 (kendaraan air), selama 2 jam.