Showing posts with label asal usul. Show all posts
Showing posts with label asal usul. Show all posts

Friday, January 24, 2014

Kontroversi Seputar Jambi

Kata "JAMBI" sebagai sebutan untuk daerah Provinsi Jambi, memiliki keanekaragaman hikayat tentang asal usul pemberian nama JAMBI. Ada beberapa cerita turun-temurun yang berkembang dikalangan masyarakat setempat yang berbeda, adanya kontroversi seputar nama JAMBI.

Berikut ini beberapa cerita tentang awal mulanya daerah ini diberi nama "JAMBI" :
  1. Nama "JAMBI" muncul sejak daerah yang berada di pinggiran Sungai Batanghari ini dikendalikan oleh seorang ratu bernama "Putri Selaras Pinang Masak" yaitu semasa keterikatan dengan Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu bahasan keraton masih dipengaruhi oleh bahasa jawa, misalnya dalam penyebutan buah pinang dalam bahasa jawa disebut "Jambe". Sesuai dengan nama ratunya "Pinang Masak" maka kerajaan tersebut dikatakan  Kerajaan Melayu Jambe, lambat laun rakyat setempat umumnya menyebut "JAMBI".
  2. Versi yang lain mengatakan, kemungkinan besar saat tanah pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan baru, pohon pinang banyak tumbuh disepanjang aliran Sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.
  3. Menurut buku sejarah "De Oudste Geschiedenis Van De Archipel" bahwa Kerajaan Melayu Jambi dari abad ke 7 sampai dengan abad ke 13 merupakan bandar atau pelabuhan dagang yang ramai. Di sini berlabuh kapal-kapal dari berbagai negara, seperti : Portugis, India, Mesir, Cina, Arab dan Eropa lainnya. Berkenaan dengan itu, sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago menceritakan bahwa sebelum Kerajaan Melayu jatuh kedalam pengaruh Hindu, seorang putri melayu bernama Puteri Dewani berlayar bersama suaminya dengan kapal niaga Mesir ke Negeri Arab, dan tidak kembali. Pada waktu lain,  seorang puteri melayu lain bernama Ratna Wali bersama suaminya berlayar ke Negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani  dengan kapal niaga Arab. Kedua peristiwa dalam legenda itu menunjukkan adanya hubungan antara orang Arab dan Mesir dengan Melayu. Mereka sudah menjalin hubungan komunikasi dan interaksi secara akrab. Kondisi tersebut melahirkan interpretasi bahwa nama "JAMBI" bukan tidak mungkin berasal dari ungkapan-ungkapan orang Arab atau Mesir yang berkali-kali ke pelabuhan Melayu ini. Orang Arab atau Mesir memberikan julukan kepada orang rakyat Melayu pada masa itu sebagai "JAMBI", ditulis dengan aksara Arab, yang secara harfiah berarti : "Sisi" atau "Samping", secara kinayah (figuratif) berarti : "Tetangga" atau "Sahabat Akrab".
  4. Kata "JAMBI" ini sebelum ditemukan oleh Orang Kayo Hitam atau sebelum disebut Tanah Pilih, bernama Kampung Jam, yang berdekatan dengan Kampung Teladan, yang diperkirakan disekitar daerah Buluran Kenali sekarang, dari kata Jam inilah akhirnya disebut "JAMBI".
  5. Menurut Teks Hikayat Negeri Jambi, kata "JAMBI" berasal dari perintah seorang raja yang bernama Tun Telanai kepada anak buahnya untuk menggali kanal dari ibukota kerajaan hingga ke laut, dan tugas ini harus diselesaikan dalam tempo satu jam. Kata "jam" inilah yang kemudian menjadi asal kata "JAMBI".
Itulah beberapa versi cerita dari sudut pandang yang berbeda-beda tentang awal mula pemberian nama Jambi, perbedaan ini bukan untuk diperdebatkan tetapi perbedaan ini merupakan kekayaan hikayat Provinsi Jambi.

Monday, December 30, 2013

Nilai Budaya Jambi

Nilai Budaya

Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan "Jambe" yang berarti "Pinang". Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal - usul Provinsi Jambi.
Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain : Melayu Jambi, Batin, Kerinci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu) dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan penduduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai batanghari.

Suku Kubu atau Suku Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku - suku yang lain. Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit - prajurit Minangkabau yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ada cerita lain yang menyatakan bahwa Suku Anak Dalam ini merupakan keturunan dari percampuran Suku Wedda dengan Suku Negrito, yang kemudian disebut sebagai Suku Weddoid. Suku Anak Dalam dibedakan atas Suku yang Jinak dan Liar. Sebutan "Jinak" diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tempat tinggal yang tetap dan telah mengenal tatacara pertanian. Sedangkan yang disebut "Liar" adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan - hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.

Suku - suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa Larik (Kumpulan rumah panjang beserta pekarangannya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (RIO) dibantu oleh Mangku, Canang dan Tua - tua Tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup masyarakat desa.

Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah - istilah atau gelar - gelar tertentu untuk menyebut lapisan - lapisan sosial dalama masyarakat.  Mereka hanya mengenal sebutan - sebutan yang "Kabur" untuk menunjukan status seseorang, seperti : orang pintar, orang kaya, orang kampung, dsb.

Pakaian pada awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Pakain sehari - hari yang dikenakan kaum wanita berupa Baju Kurung dan Selendang yang dililitkan dikepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan Celana Setengah Ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari - hari, pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.

Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas Perentak, Rangguk, Sekapur Sirih, Selampit Delapan, Serentak Satang.

Upacara Adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik Sirih Bergurau Pinang, Duduk Bertuik, Tegak Betanyo, Ikat Buatan Janji Semayo, Ulur Antar Serah Terimo Pusako dan Kematian.

Filsafat Hidup masyarakat setempat : "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo"


Saturday, December 7, 2013

Asal Mula Nama Sarolangun

Pada zaman dulu, sebelum agama Islam masuk kedaerah Jambi, ada sebuah dusun yang terletak dipinggir sungai Batang Asai, dusun ini bernama Ujung Tanjung karena letaknya di Ujung Tanjung Tembesi. Sejak zaman Hindu dusun Ujung Tanjung ini sudah terkenal karena daerah ini menjadi pusat Pemerintahan Segala Batin (Negeri). Kepala Dusunnya dipimpin oleh seorang Rio yang bergelar Datuk Bagindo Tuo, kala itu tidak sembarang orang bisa jadi Kepala Dusun atau Rio. Hanya orang yang berilmu tinggi dan sakti saja lah yang bisa menjadi Kepala Dusun dan dihormati rakyatnya. Karena Ujung Tanjung menjadi pusat Pemerintahan Segala Batin (Negeri) didirikanlah sebuah tempat musyawarha yang dinamakan Balai Panjang. Sampai sekarang ungkapan Balai Panjang ini disebut dalam kata - kata adat di Kabupaten Sarolangun yang berbunyi "Ujung Tanjung Saribulan, Bakuto Pinang Balarik, Idak Pasih Bategak Rumah, Pasih Bategak Balai Panjang, Disitu Tempat Kusut Basalesai, Silang Tempat Bapatut".

Bulan berganti tahun, tahun berganti abad, dari zaman Hindu masuk Islam, daerah Jambi diperintah oleh seorang Raja Jambi yaitu Sultan Thaha. Dimasa Pemerintahan Sultan Thaha inilah nama Dusun Ujung Tanjung disebut Ujung Tanjung Saribulan. Pasalnya ketika rombongan Kerajaan Melayu Jambi yang dipimpin oleh Sultan Thaha dengan membawa rombongan armada perahu kajang lakonya menelusuri sungai batanghari kehulu dan masuk ke sungai batang tembesi untuk meninjau daerah dan rakyatnya, dan sampailah ke dusun Ujung Tanjung. Rombongan disambut oleh rakyat sebagaimana layaknya menyambut seorang Raja. Sultan Thaha menjadi tamu Datuk Rio Bagindo Tuo lengkap dengan pengawal hulubalang tangguh yang datang dari dusun - dusun sekitarnya seperti : Bathin VIII, Bathin VI, Bathin Pengambang, dll.

Sistem Pemerintahan didusun Ujung Tanjung Saribulan ketika itu adalah sistem pintu gerbang, Karena Ujung Tanjung menjadi pusat Pemerintahan Segala Bathin. Bagi para tamu dari luar daerah tidak boleh datang langsung ke Ujung Tanjung Saribulan tetapi harus menghadap dan melapor Datuk Rio Depati Singo Dilogo kepala Pemerintahan di desa Lidung. Desa Lidung ini terletak kira - kira 5 km kehilir sungai tembesi. Apabila sudah ada izin dari Rio Lidung ini, barulah tamu tadi datang ke Rio Datuk Bagindo Tuo di Ujung Tanjung Saribulan.

Pada masa ini lah Dusun Ujung Tanjung berubah nama menjadi SAROLANGUN, dongengnya kira - kira begini :
Suatu ketika ada dua orang tamu dari daerah Musi Rawas berasal dari Dusun Suro. Kedua orang ini ingin bertemu dan menghadap Rio Datuk Bagindo Tuo di Ujung Jabung tersebut. Mereka ingin bertemu untuk silaturahmi dan ingin menuntut ilmu kesaktian dengan Datuk Rio. Sebelum mereka ke Ujung Tanjung Saribulan sudah menjadi ketentuan haruslah melapor terlebih dahulu kepada Rio Dusun Lidung. Transportasi atau hubungan antar dusun ketika itu terutama melalui sungai, sedangkan hubungan darat sangat sulit karena belum ada jalan seperti saat ini, yang ada semak belukar bahkan masih hutan belantara.

Ketika kedua orang suro ini menuju Dusun Lidung haripun sudah hampir malam. Terpaksalah kedua orang tersebut istirahat dan bermalam ditengah hutan ini yang bernama hutan Senaning. Sore harinya itu sempat pula kedua orang ini bertemu dengan dua orang penduduk Dusun Lidung yang mau pulang dari mencari rotan. Sanak datang dari mana dan tujuan kemana, sapa orang Lidung kepada kedua orang suro ini. Kami datang dari dusun Suro Musi Rawas mau menghadap Datuk Rio Depati SingoDilago di Dusun Lidung, jawab kedua orang suro ini. Karena hari sudah senja dan Dusun Lidung masih jauh, maka bermalamlah kedua orang suro ini di hutan Senaning. Sesampainya di Dusun Lidung, kedua pencari rotan tadi melapor kepada Datuk Rio bahwa di hutan Senaning ada tamu bermalam disana dan mau menghadap Datuk Rio. Oleh Datuk Rio diperintahkannya lah aling - aling atau pesuruhnya untuk menjemput dan membawa kedua orang suro tadi ke Dusun Lidung.

Setelah tiba di tempat bermalamnya orang suro itu ternyata sudah tidak ada lagi di tempat itu, sedangkan perintah Rio kalau belum ketemu harus dicari terus didalam hutan itu. Sudah dua hari utusan itu berkeliling di hutan Senaning, namun kedua orang suro itu tidak juga ditemukan. Akhirnya para pencari inipun pulang ke Dusun Lidung dan memberi tahu Rio nya bahwa kedua orang suro itu sudah berpindah dari tempatnya. 
Beberapa hari kemudian didapat berita oleh Rio Dusun Lidung bahwa kedua orang suro itu telah bermalam dan berpindah ke dusun Ujung Tanjung Saribulan. BERMALAM dan BERPINDAH dalam bahasa dusun itu disebut MELANGUN

Dikarenakan peristiwa melangun ini terjadi di Dusun Ujung Tanjung Saribulan maka Desa Ujung Tanjung Saribulan berubah nama menjadi SURO MELANGUN. Lama kelamaan disebabkan logat dan ejaan orang dusun SURO MELANGUN berubah menjadi SAROLANGUN. Kini Sarolangun telah menjadi Kabupaten Sarolangun yang merupakan bagian dari Provinsi Jambi.  demikianlah sekelumit dongeng tentang asal usul nama SAROLANGUN.

Monday, November 4, 2013

Sekilas Tentang Asal Usul Pasar Angso Duo

Pasar Angso Duo
Pasar Angso duo adalah pasar tradisional terbesar di provinsi Jambi. Di pasar ini terdapat aneka ragam barang dagangan mulai dari sayu-mayur, lauk-pauk, pakaian, perabot rumah tangga dan masih banyak lagi. Pasar tradisional ini telah menjadi sandaran hidup lebih dari 5.000 pedagang dan punya sejarah Panjang  sebagai pasar yang berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain (Nomaden).

Belakang Mall WTC Batanghari
Dahulu kala pada awal abad ke-18, kawasan muara jambi berada di Dermaga Bom Batu. kini kawasan tersebut telah berubah menjadi  Mall WTC Batanghari, dahulu di lokasi ini ada sebuah pasar tradisional kecil. orang menyebutnya  Pasar Tanah Pilih. Pasar ini lah yang menjadi cikal bakal Pasar Angso duo  walaupun letaknya tidak sama dengan yang sekarang berdiri. Tokoh masyarkat Jambi mengatakan pada zaman penjajahan Jepang pasar tersebut hancur. Akhirnya pasar pun pindah sekitar 500 meter ke arah tenggara, masyarakat Jambi menyebut lokasi pasar yang baru ini dengan sebutan Gang Siku.

Pasar yang baru tersebut di bangun sangat sederhana, hanya berupa deretan meja-meja dari batu. masyarakat jambi pada saat ini menyebutnya Pasar Meja Batu. Di pasar yang baru ini, tidak hanya terhampar ikan, daging dan sayur-mayur yang dijual di atas meja batu, melainkan juga sebagai tempat orang-orang duduk mengobrol, bersantai sambil minum kopi sembari menikmati pemandangan sungai batanghari. Pada masa itu barang-barang impor dari singapura sudah banyak masuk ke Jambi berupa pakaian, kasur dan perlengkapan rumah tangga. Semua barang di kirim dari Muara menuju sungai Batanghari menggunakan Kapal. Dilokasi Pasar Angso Duo yang kini berdiri, dulunya hanyalah tempat kapal bersandar dan menurunkan barang-barang dagangan, dari situ barang-barang di angkut para kuli menuju Pasar Meja batu. Dalam perkembangannya, Pasar Meja Batu semakin ramai oleh pedagang dengan berbagai jenis barang dagangannya, gang siku menjadi sesak sepanjang jalan itu becek dan  tidak nyaman lagi bagi para pembeli.

Pada tahun 1970, sedimentasi sungai kian parah. Pemerintah daerah pun melakukan pengerukan. Tanah dan pasir hasil pengerukan di gunakan untuk menimbun di sekitar sungai sehingga terbentuklah daratan baru. Pada daratan itulah pemerintah akhirnya memindahkan kembali pusat pasar tradisional dari Pasar Meja Batu. Pasar yang baru ini bernama Pasar Angso Duo resmi berdiri pada Tahun 1974, tepat di tepi sungai Batanghari. Pasar ini di bangun atas reklamasi sungai. Seiring dengan waktu Pasar Meja Batu berubah menjadi pertokoan dan disepanjang jalan penuh dengan pedagang kaki lima.
Pasar Angso Duo Tempo Dulu

Pasar Angso Duo Becek


Seperti pada umumnya pasar-pasar tradisional, keberadaan Pasar Angso Duo belakangan ini mulai menimbulkan masalah. Pasar menjadi sangat kumuh, bukan lagi becek tetapi banjir ketika musim penghujan tiba. Air limpahan dari sungai Batanghari kerap naik dan merendam ke bagian belakang Pasar. Akibatnya, pasar tidak lagi nyaman bagi para pembeli. Pedagang-pedagang yang menggelar lapak di belakang pasar mulai meninggalkan lapaknya, mereka pindah ke depan pasar dan mulai menggelar dagangannya di bagian luar, memakan sebagian badan jalan umum. Pada pagi hari, jalan raya menjadi macet karena aktivitas jual-beli memenuhi sebagian jalan ditambah lagi mobil-mobil angkutan kota kerap berkerumun menunggu calon penumpang di badan jalan. Akhirnya terciptalah kesan sembrautnya Pasar Angso Duo.
Kesembrautan Pasar Angso Duo saat ini


Kini setelah kurang lebih 35 tahun, muncul kembali wacana memindahkan Pasar Angso Duo ini ke tempat lain. Rencana lokasi baru yang dipilih hanya berjarak kurang lebih 100 meter lokasi yang lama. Lokasi ini juga berada di tepi sungai Batanghari, tetapi posisinya agak lebih tinggi daripada sungai itu. Rencana pemerintah kota Jambi akan menjadikan pasar ini menjadi pasar yang semimodern, Pasar ini tidak hanya akan menampung pedagang dalam kios dan lapak tetapi juga akan menyediakan  ruko dan ruang-ruang pameran, serta tempat parkir yang lebih luas. Sedangkan Eks Pasar Angso Duo nantinya akan dijadikan  ruang hijau atau taman kota, untuk memberi kenyamanan bagi masyarakat Jambi.











Wednesday, October 9, 2013

Sekilas Tentang Suku Anak Dalam Jambi



Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.
Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam,Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung Sumatera barat, yang mengungsi/migrasi ke Jambi yang di perkirakan karena kondisi yang tidak aman atau karna pasokan makanan yang kurang. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku MinangKabau, seperti sistem kekerabatan Matriliniel.
Dikabupaten Tanah datar sebagai pusat kerajaan Pagaruyung itu sendiri terdapat sebuah daerah yaitu Kubu Kandang. Merekalah yang di perkirakan bermigrasi ke beberapa wilayah di jambi bagian barat.
Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara Nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.
Suku Anak Dalam atau Orang Rimba hidup secara berkelompok dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, tujuannya bisa jadi “Melangun”(berpindah ketika ada warga dalam kelompok yang meninggal), menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang rimba tinggal di pondok-pondok yang di sebut “sesudungon” berupa bangunan dari kayu hutan berdinding kulit kayu dan beratap daun serdang benal. Suku Anak Dalam hidup dengan memakan buah-buahan di hutan, berburu dan mengonsumsi air dari aliran sungai menggunakan bonggol kayu.
Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan.