Thursday, October 31, 2013

Kabupaten Tebo


Kabupaten Tebo adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari hasil pemekaran Kabupaten Bungo Tebo, tanggal 12 Oktober 1999.

Lambang Kabupaten Tebo

Lambang Kabupaten Tebo
Arti Lambang :
  1. Perisai persegi lima melambangkan Rukun Islam dan Ideologi Pancasila.
  2. Pintu atau kotak-kotak pada kubah mesjid yang terdiri dari enam buah melambangkan bahwa pada saat pembentukan Kabupaten Tebo terdiri dari enam kecamatan.
  3. Padi nan duo belas kapas nan sepuluh melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran serta tanggal bulan berdirinya Kabupaten Tebo.
  4. Rantai sembilan di sebelah kanan dan sembilan di sebelah kiri melambangkan persatuan dan kesatuan serta tahun berdirinya Kabupaten Tebo.
  5. Kajang Lako melambangkan kebesaran dan merupakan alat transportasi pada masa Kesultanan Jambi.
  6. Gong melambangkan salah satu alat komunikasi dan alat kesenian masyarakat Kabupaten Tebo.
  7. Tali berpintal tigo yang mengikat gong melambangkan kesenian adat, syara' dan Pemerintah.
  8. Keris berlengkuk tujuh yang tidak memakai ulu melambangkan kepatuhan terhadap hukum serta semangat menolak yang bathil dan khufur, tujuh bilangan ganjil berarti tidak memihak.
  9. Galah dan Dayung, Galah adalah menunjukkan tekat untuk maju dan penolakan terhadap budaya asing yang negatif, Dayung adalah tanda kekompakan, kebersamaan dan bahu membahu untuk mencapai tujuan bersama.
  10. Sungai melambangkan bahwa Kabupaten Tebo didominasi oleh daerah aliran sungai dan juga merupakan sarana transportasi masyarakat.
  11. Pita yang bertuliskan "SEENTAK GALAH SERENGKUH DAYUNG" melambangkan identitas sosial, jatidiri, masyarakat Kabupaten Tebo.
  12. Keluk Paku dalam Tudung layar Kajang Lako melambangkan ragam bias Kabupaten Tebo.
  13. Kubah Mesjid melambangkan bahwa mayoritas Penduduk Kabupaten Tebo beragama Islam. 
  Geografi & Topografi 

Batas Wilayah :
- Utara    : Kabupaten Indragiri hilir provinsi Riau
- Selatan : Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin
- Barat    : Kabupaten Bungo dan Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
- Timur   : Kabupaten Batanghari 

Pembagian Wilayah :
  1. Tebo Tengah yang beribukota di Muara Tebo.
  2. Rimbo Bujang yang beribukota di Wiroto Agung.
  3. Rimbo Ilir yang beribukota di Karang Dadi.
  4. Rimbo Ulu yang beribukota di Suka Damai.
  5. VII Koto yang beribukota di Sungai Abang.
  6. VII Koto Ilir yang beribukota di Balai Rajo.
  7. Sumay yang beribukota di Teluk Singkawang.
  8. Serai Serumpun yang beribukota di Sekutur Jaya.
  9. Tengah Ilir yang beribukota di Mengupeh.
  10. Tebo Ulu yang beribukota di Pulau Temiang.
  11. Tebo Ilir yang beribukota di Sungai Bengkal.
  12. Muara Tabir yang beribukota di Pintas Tuo.

Kabupaten Ini Memiliki 5 Kelurahan Yaitu: - Untuk Kecamatan Tebo Tengah Memiliki 2 Kelurahan Yaitu A.Kelurahan Tebing Tinggi B.Kelurahan Pasar Muara Tebo - Untuk Kecamatan Tebo Ilir Memiliki 1 Kelurahan Yaitu: A. Kelurahn Sungai Bengkal - Untuk Kecamatan Tebo Ulu Memiliki 1 Kelurahan Yaitu: A. Kelurahan Pulau Temiang - Untuk Kecamatan Rimbo Bujang Memiliki 1 Kelurahan Yaitu: A. Kelurahan wirotho agung.
Adapun untuk perekonomian Kabupaten Tebo Bersumber Pada perkebunan Sawit, Karet di dukung Oleh pertambangan baik itu Batu Bara, Minyak Bumi dan Tambang emas tapi masih dalam skala kecil. daerah ini kaya akan sumber daya alam dan bisa di jadikan daerah perikanan tawar karena diLewati oleh sungai terbesar di Provinsi Jambi yaitu Sungai Batanghari serta merupakan daerah rawa dataran rendah.Kabupaten Tebo Memiliki penduduk sejumlah ± 224.944 jiwa dengan 75 % adalah petani. Memiliki 1 Buah Pusat Kesehatan yaitu Rumah sakit Umum Daerah Sultan Thaha Syariffudin, dibantu oleh 12 Pusat kesehatan Masyarakat (PKM) di 12 kecamatannya.

Tempat Kunjungan Wisata  
Beberapa tempat kunjungan wisata di Kabupaten Tebo :

1. Makam Sultan Thaha Syaifuddin
Makam pahlawan Nasional asal Jambi, Sultan Thaha Syaifudin

Lokasi
:
Kecamatan Tebo Tengah, 210 km dari Kota Jambi (46 km dari Kota Muaro Bungo), menempati areal seluas ± 1 ha

Wisata
:
Sultan Thaha Syaifudin adalah sultan terakhir Kesultanan Melayu Jambi & merupakan keturunan ke-15 dari Putri Selaras Pinang Masak. Menduduki tahta kesultanan dan menyingkir dari istana yang diduduki Belanda tahun 1858, dan gugur tahun 1904 dalam perlawanan terhadap penjajah.
Tanggal 1 Desember 1977, diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional dari Jambi.


2. Istana Sultan Thaha Syaifuddin
Istana pahlawan Nasional asal Jambi, Sultan Thaha Syaifudin

Lokasi
:
Kecamatan Tebo Ilir, Tanah Garo, 160 km dari Kota Jambi, menempati areal seluas ± 40 ha

Wisata
:
Merupakan kawasan Istana Sultan Thaha Syaifuddin yang dikelilingi oleh anak sungai sebagai sarana transportasi menuju lokasi, dalam kawasan ini terdapat hutan kayu, rotan, damar dan bukit untuk melihat ke arah Desa Betung Berdarah dan Sungai Tabir
3. Taman Hutan Raya Bukit Sari
Hutan lindung dengan koleksi tanaman langka

Lokasi
:
Kecamatan Tebo Ilir, Desa Sungai Bengkal, 156 km dari Kota Jambi, menempati areal seluas ± 610 ha

Wisata
:
Kawasan hutan alam ini membentang seluas ± 610 ha sepanjang jalan raya, dengan koleksi tidak kurang dari 30 jenis kayu langka seperti : pohon bulian (kayu besi), tembesu, balam merah, kulim, beringin, meranti, kelat, keruang, marsawa, dll. Di dalamnya sudah terdapat jalan setapak untuk mempermudah kunjungan.
4. Taman Nasional Bukit 30 (TNBT)
Salah satu dari 4 Taman Nasional di Provinsi Jambi

Lokasi
:
Kecamatan Tebo Tengah, Desa Lubuk Madrasah, menempati areal seluas ± 127.698 ha

Wisata
:
Merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kekayaan habitat flora & fauna yang dilindungi. Selain itu disekitarnya merupakan kawasan tempat tinggal komunitas Talang Mamak (suku kubu/suku anak dalam/orang rimbo) dan petani tradisional Melayu
5. Batu Menangis & Air Terjun Bulian Berdarah
Kawasan wisata yang berkaitan dengan legenda penduduk setempat

Lokasi
:
Kecamatan Tebo Tengah, Desa Lubuk Madrasah

Wisata
:
Batu Menangis terkait legenda setempat tentang anak durhaka, sementara Air Terjun Bulian Berdarah adalah kawasan wisata alam yang dulunya terdapat banyak pohon bulian yang mengeluarkan getah berwarna merah darah. Di area kecamatan ini juga terdapat Air Terjun Ketalo & Air Terjun Bukit Karendo.
6. Danau Sigombak
Kawasan wisata yang berkaitan dengan legenda penduduk setempat

Lokasi
:
Kecamatan Tebo Ulu, Desa Teluk Kembang Jambu, luas area ± 40 ha, pulau ditengah danau ± 5 ha

Wisata
:
Danau Sigombak berbentuk cincin dengan pulau ditengahnya berupa hutan heterogen. Panorama danau yang indah ini terlihat jelas dari Desa Teluk Kembang Jambu. Di bagian utara danau terdapat lubuk (kawasan perairan dalam) sementara ditengah relatif lebih dangkal.





 


Wednesday, October 30, 2013

Tempat Kunjungan Wisata di Kota Jambi


Di wilayah Kota Jambi, obyek wisata yang ada lebih banyak didominasi oleh obyek wisata buatan seperti taman rekreasi, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta; museum & situs peninggalan bersejarah; wisata budaya, belanja & wisata kuliner; serta hiburan rekreasional lainnya yang umumnya terdapat di wilayah perkotaan. Sementara obyek wisata alam lebih banyak terdapat di kawasan kabupaten di dalam Provinsi Jambi.

Sebagian besar obyek wisata di Jambi saat ini belum semuanya dapat dikelola dengan baik oleh Pemerintah, walaupun usaha ke arah itu terus dilakukan, terutama dalam pengelolaan situs/obyek peninggalan bersejarah, obyek wisata alam dan hutan lindung beserta isinya. 

Berikut ini tempat kunjungan wisata yang ada di kota Jambi :
1. Taman Mini Jambi dan Taman Rimba
Taman Mini Jambi

Taman Rimba

Kawasan obyek wisata budaya, taman rekreasi dan sarana olahraga.
Lokasi : Jl. Sunaryo, Kecamatan Jambi Selatan, 7 km dari pusat kota dan 500 m dari Bandara Sultan Taha.
Wisata : Taman hiburan dan rekreasi seluas 18 ha.
Fasilitas : Rumah adat dari 6 kabupaten-kota se-Provinsi Jambi, Bangunan gedung permanen,Stadiun terbuka dengan sistem penerangan,Tempat parkir luas,Terdapat pintu masuk (gapura) & dikelilingi pagar,Kebun binatang & taman, dengan flora & fauna yang dilindungi.
Keterangan : Merupakan kawasan yang pernah digunakan untuk penyelenggaraan MTQ Nasional ke-18 tahun 1997, setelahnya biasa digunakan sebagai pusat kegiatan perayaan event- event penting baik oleh pemerintah maupun swasta.

2. Tanggo Rajo / Ancol Jambi
Ancol
Kawasan di depan Rumah Dinas Gubernur yang berada di pinggir Sungai Batanghari yang sering di sebut juga sebagai Ancolnya Jambi oleh masyarakat Jambi, merupakan kawasan dengan panorama dan pusat jajanan murah.
Lokasi : Kawasan di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jl. Sultan Taha, Kecamatan Pasar Jambi.
Wisata : Wisata kuliner dan panorama dari tepi Sungai Batanghari.
Fasilitas : Area pusat jajanan yang tertata rapi, Jalan aspal & tangga hingga ke pinggir sungai Batanghari.

Keterangan : Merupakan kawasan yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi keluarga menikmati panorama sungai Batanghari, memancing, atau menikmati jajanan di sepanjang jalan raya di pinggir sungai. Dari Tanggo Rajo inilah tiap tahun Gubernur melambaikan bendera start dalam event tahunan Lomba Perahu Tradisional, dalam rangka HUT RI, 17 Agustus.

3. Hutan Kota Mayang Mangurai Jambi
Hutan Kota Mayang Mangurai

Kawasan agro wisata, rekreasi dan sarana outbound serta perkemahan.

Lokasi : Kecamatan Kota Baru, 7 km dari pusat kota.

Wisata : Hutan kota seluas 10 ha di Paal 10 dan 10 ha di Paal 11.

Fasilitas : Bangunan pendopo peristirahatan dilengkapi toilet, Tempat parkir luas, Taman, dengan flora & fauna yang dilindungi, Kolam luas.

Keterangan : Merupakan kawasan yang digunakan sebagai pusat konservasi hutan kota, pengembangan bibit gaharu yang dikelola oleh Kantor Kehutanan Kota Jambi, wisata outbound, & taman rekreasi keluarga. Lokasi tidak jauh dari pusat kota.

4. GOR (Gelanggang Olah Raga) Kota Baru Jambi
GOR(Gelanggang Olah Raga)

Gedung olahraga dan kegiatan olahraga lainnya, serta pentas pagelaran musik, baik di dalam maupun di luar ruangan.
Lokasi : Jl. H. Agus Salim, Kecamatan Kota Baru, 6 km dari pusat kota
Wisata : Olahraga dan kegiantan kesenian
Fasilitas : Bangunan gedung olah raga diatas area seluas 40.884 m² Tempat parkir luas Taman, lapangan sepakbola mini Dojo Judo disebelahnya, gedung Senam didepannya
Keterangan : Merupakan kawasan yang digunakan sebagai pusat kegiatan berbagai cabang olahraga, seperti Tarung Drajad, Judo, Senam, Jogging maupun kegiatan lain seperti pagelaran seni, dll. Lapangan terbukanya sering digunakan untuk berbagai acara seperti pentas musik, otomotif dll.

5. Kolam Renang Tepian Rajo
Kolam Renang Tepian Rajo

Kolam renang standard international.
Lokasi : Jl. Kapt. Sujono, Kecamatan Kota Baru, 6 km dari pusat kota
Wisata : Renang, polo air dan water boom.
Fasilitas : Kolam renang standard international 20x50 m & kolam anak-anak
Tempat parkir luas & taman, luas area 3 ha, Water boom mini.
Keterangan : Merupakan kolam renang yang digunakan sebagai pusat kegiatan cabang olahraga renang dan polo air. Rutin digunakan berbagai sekolah di Kota Jambi sebagai tempat latihan renang. Pada hari libur selalu dipenuhi pengunjung terutama anak-anak di fasilitas water boomnya.

6. Taman Ria Remaja
Taman rekreasi dan tempat pagelaran seni yang sering digunakan oleh pelajar se-kota Jambi.
Lokasi : Jl. H. Agus Salim, Kecamatan Kota Baru, 4 km dari pusat kota.
Wisata : Taman rekreasi dan pentas pertunjukan.
Fasilitas : Taman rekreasi seluas 2 ha yang rimbun oleh pepohonan, sering digunakan pula sebagai pentas seni, Tempat parkir luas & taman.

Keterangan : Sering digunakan berbagai sekolah di Kota Jambi sebagai tempat pagelaran tari, musik, pertandingan kesenian, dll.

7. Taman Anggrek Sri Soedewi
Taman Anggrek Sri Soedewi
Taman pengembangan tanaman anggrek, baik lokal maupun anggrek Nusantara.
Lokasi : Jl. A. Yani, Kecamatan Telanaipura, 6 km dari pusat kota.
Wisata : Taman botani dan rekreasi.
Fasilitas : Taman rekreasi seluas 25.056 m² yang rimbun oleh pepohonan, dan berbagai jenis anggrek yang dikembangkan di taman ini, Kantin, kolam ikan, dll.
Keterangan : Anggrek merupakan kekayaan flora yang dimiliki Indonesia, bunga yang tumbuh di hutan hujan tropis ini diduga masih banyak terdapat di pedalaman Jambi.

8. Taman Mayang Mangurai - Telanaipura 
Taman Mayang Mangurai
Di taman ini terdapat Rumah Adat Jambi, Kajanglako, dan perlengkapan adat.
Lokasi : Jl. Atmadibrata, Kecamatan Telanaipura, 6 km dari pusat kota.
Wisata : Taman dengan bangunan Rumah Adat Jambi, Kajanglako. Didalamnya terdapat koleksi peralatan pengantin Jambi dan pakaian adat kabupaten kota se-Provinsi Jambi.
Fasilitas : Taman yang penuh pepohonan dengan bangunan Rumah Adat Jambi, berada diatas area seluas 0,75 ha. Tepat berada disebelah Kantor Gubernur Jambi, dan masih berada dalam kompleks perkantoran Pemerintah Provinsi.
Keterangan : Taman ini bersebelahan dengan Kantor Gubernur dan berhadapan dengan Kantor DPRD Provinsi Jambi yang megah. Di dalam Rumah Adat tersimpan koleksi perlengkapan adat-istiadat Jambi. 

9. Sanggar Batik & Kerajinan PKK Provinsi Jambi
Motif Batik Jambi
Tempat pemasaran berbagai kerajinan karya ibu-ibu PKK se-Provinsi Jambi.
Lokasi : Jl. Sri Soedewi, Kecamatan Telanaipura, 4 km dari pusat kota.
Wisata : Merupakan tempat pemasaran berbagai macam batik khas Jambi, tenun Songket Jambi, sulaman benang emas, kerajinan anyaman rotan/bambu, ukiran kayu, perhiasan batu- batuan, bros dari sisik ikan dan berbagai macam hasil kerajinan khas Jambi. Sanggar ini dikelola PKK Provinsi Jambi sebagai tempat pelatihan membatik dan kerajinan tangan lainnya. Buka setiap hari pada jam 09.00 - 16.00 WIB.

10. Dekranasda
Dekranasda Provinsi Jambi
Tempat pemasaran berbagai kerajinan karya pengrajin se-Provinsi Jambi.
Lokasi : Jl. Sudirman (depan Mapolda) Kecamatan Jambi Selatan, 4 km dari pusat kota.
Wisata : Merupakan tempat pemasaran berbagai macam batik khas Jambi, kerajinan anyaman rotan/bambu, ukiran kayu dari Betung, perhiasan batu-batuan dan berbagai macam hasil kerajinan khas Jambi. Selain itu juga tersedia produk makanan & minuman khas Jambi seperti, kopi, teh kayu aro, dodol nanas tangkit, keripik dan dodol kentang Kerinci, dll.

11. Pasar Keramik
Pasar Keramik
Pasar penjualan keramik & kristal hiasan.
Lokasi : Jl. Sisingamangaraja, belakang bioskop Mega, Pasar Jambi.
Wisata : Merupakan tempat pemasaran berbagai macam jenis keramik, kristal hias & barang- barang import lainnya.

12. Danau Sipin 
Danau Sipin
Wilayah dengan wisata alam berupa kawasan perairan yang mengelilingi sebuah pulau (Pulau Pandan).
Lokasi : Kecamatan Telanaipura, 4-7 km dari pusat kota dan 10 km dari Bandara Sultan Taha.
Wisata : Kawasan dengan panorama alam seluas 200 ha dengan pulau seluas 89,2 ha. Tempat pemancingan & budidaya ikan.
Keterangan : Hotel Ratu (bintang 4) & Batanghari Restaurant terdapat salah satu sisinya.

13. Danau Teluk
Danau Teluk
Wilayah dengan wisata alam berupa kawasan perairan yang menjadi tempat budidaya ikan air tawar secara tradisionil.
Lokasi : Kecamatan Danau Teluk, 12 km dari pusat kota melalui Jembatan Aur Duri (3 km di seberang Kota Jambi).
Wisata : Kawasan dengan panorama alam dan perairan. Tempat pemancingan & budidaya ikan (keramba).
Keterangan : Terletak di Jambi Kota Seberang, dan telah terdapat jalan aspal menuju lokasi.

14. Mesjid Agung Al-Falah
Mesjid Agung Al-Falah
Mesjid ini memiliki banyak tiang & tidak berdinding, sehingga lebih dikenal sebagai Mesjid Seribu Tiang.
Lokasi : Jl. Sultan Taha, Kecamatan Telanaipura, bersebelahan dengan Pusat Pendidikan Islam Al-Falah, Museum Perjuangan & IPAL Benteng.
Wisata : Wisata keagamaan, mesjid ini adalah mesjid terbesar di Kota Jambi & menjadi pusat kegiatan dan dakwah Islam. Pada masa lalu diduga merupakan pusat Kesultanan Jambi (Kampung Gedang Tanah Pilih).

15. Kompleks Makam Rajo-Rajo Jambi
Kompleks Makam Rajo-Rajo Jambi
Wilayah pemakaman kuno yang dikeramatkan penduduk setempat.
Lokasi : Kecamatan Telanaipura, 4 km dari pusat kota.
Wisata : Di tempat ini dimakamkan isteri Sultan Thaha Syaifuddin, Raden Mattaher, dll.

16. Makam Datuk Sintai 
Makam kuno yang dikeramatkan penduduk setempat.
Lokasi : Kampung Pecinan, Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, 15 km dari pusat kota melalui Jembatan Aur Duri.
Wisata : Makam kuno yang dikeramatkan, terletak di Jambi Kota Seberang.

17. Kampoeng Radja
Kampoeng Radja

Taman Rekreasi & Restaurant yang merupakan usaha swasta.
Lokasi : Jalan lintas lingkar barat, dekat Terminal Alam Barajo, Simpang Rimbo.
Wisata : Selain restaurant & taman rekreasi (terdapat danau buatan & tempat pemancingan didalamnya), juga tersedia sarana outbound, kolam renang, go car, dll.

18. Museum Negeri Jambi
Museum Siginjai
Tempat rekreasi dan pendidikan sejarah Jambi.
Lokasi : Jl. Urip sumoharjo No. 01 Telanaipura.
Wisata : Museum Negeri Jambi memiliki berbagai jenis koleksi yakni: geologi, biologi, filologi, etnografi, arkeologi, sejarah, keramik, seni rupa dan tekhnologi.


Tuesday, October 29, 2013

Kota Jambi

Kota Jambi adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Jambi, Indonesia. Kota Jambi dibelah oleh sungai yang bernama Batanghari, kedua kawasan tersebut dapat dihubungi oleh jembatan yang bernama jembatan Aur Duri I dan jembatan Aur Duri II.

Lambang Kota Jambi berbentuk Perisai dengan bagian yang meruncing dibawah, dikelilingi 3 (tiga) garis dengan warna bagian luar putih, tengah berwarna hijau dan bagian luar berwarna putih. Garis hijau yang mengelilingi lambang pada bagian atas lebih lebar dan didalamnya tercantum tulisan "KOTA JAMBI" yang melambangkan nama daerah dan diapit oleh 2 buah bintang bersudut 5 berwarna putih, yang melambangkan kondisi kehidupan sosial masyarakat Jambi yang terdiri dari berbagai suku dan agama memiliki keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Warna dasar lambang berwarna biru langit.



Arti Lambang :
- Senapan/Lelo, Gong & Angsa :
Setelah orang Kayo Hitam menikah dengan putri Temenggung Merah Mato yang bernama Putri Mayang Mangurai, maka oleh Temenggung Merah Mato anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako kemudian disuruh menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru.
Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan bahwa tempat yang akan dipilih ialah dimana sepasang Angsa naik ketebing dan mupur di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua Angsa naik kedarat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut "Tanah Pilih", dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.
Sewaktu Orang Kayo Hitam menebas untuk menerangi tempat tersebut ditemukannya sebuah Gong dan Senapan/Lelo yang diberi nama "SITIMANG" dan "SIDJIMAT", yang kemudian kedua benda tersebut menjadi barang Pusaka Kerajaan Jambi yang disimpan di Museum Negeri Jambi.

- Keris :
Keris tersebut bernama "KERIS SIGINJAI" dan merupakan lambang kebesaran serta kepahlawanan Raja dan Sultan Jambi dahulu, karena barang siapa yang memiliki keris tersebut dialah yang diakui sebagai penguasa atau berkuasa untuk memerintah Kerajaan Jambi.

- Garis Biru 9 Buah :
Garis-garis ini melambangkan luasnya wilayah Kerajaan Jambi dahulu yang meliputi 9 buah lurah dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama :
1. Batang Asai
2. Batang Merangin
3. Batang Masurai
4. Batang Tabir
5. Batang Senamat
6. Batang Jujuhan
7. Batang Bungo
8. Batang Tebo
9. Batang Tembesi
Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kerajaan Jambi. 

- Garis Hijau 6 Buah :
Garis ini melambangkan bahwa wilayah Kota Jambi dahulunya secara administratif terdiri dari 6 kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Pasar Jambi
2. Kecamatan Jambi Timur
3. Kecamatan Jambi Selatan
4. Kecamatan Telanaipura
5. Kecamatan Danau Teluk
6. Kecamatan Pelayangan
Kecamatan kecamatan ini dibentuk dengan SK Gubernur Jambi Tanggal 5 Juni 1965 NO. 9/A-I/1965.
Pada tahun 2002 wilayah Kota Jambi dimekarkan menjadi 8 kecamatan yang terdiri dari 62 kelurahan berdasarkan Perda No. 35 tahun 2002.

- Pohon Pinang :
Pohon Pinang melambangkan asalnya isitlah atau perkataan "DJAMBE" dahulu yang kemudiam dipakai sebagai nama untuk menyebut daerah ini (Keresidenan Jambi, Propinsi Jambi dan Kota Jambi)
Istilah "JAMBI" ini berasal dari perkataan "DJAMBE" (bahasa Jawa). Dan "DJAMBE" ini nama sejenis Pohon Pinang. Istilah "DJAMBE" lama kelamaan berubah menjadi "DJAMBI". Dan terakhir karena ejaan yang disempurnakan maka istilah "DJAMBE" berubah pula menjadi JAMBI.

- Motto “ Tanah Pilih Pesako Betuah”
Kota Jambi mempunyai motto "TANAH PILIH PESAKO BETUAH" yang tertera pada sehelai Pita Emas dibawah Lambang Kota Jambi, yang mengandung pengertian secara harfiah :
a. Tanah : permukaan bumi paling atas atau kondisi area suatu tempat.
b. Pilih : pilihan yang dipilih dari yang lain dengan teliti
c. Pesako : warisan
c. Betuah : memiliki kelebihan luar biasa (sakti) yang tidak dimiliki oleh yang lain

TANAH PILIH PESAKO BETUAH pada hakekatnya mengandung pengertian sebagai berikut :
a. Melambangkan suatu pernyataan bahwa Kota Jambi adalah berasal dari tanah yang dipilih oleh Raja Jambi untuk dijadikan Pusat Pemerintahan Kerajaan Melayu Jambi yang diwariskan kepada kita yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang sangat berharga untuk kita jaga dan pelihara untuk kemudian kita wariskan kepada anak cucu kita kelak.
b. Menggambarkan kehidupan masyarakat Kota Jambi yang rukun, damai, aman, makmur dan sejahtera lahir-batin karena mengutamakan kegotongroyongan.

TANAH PILIH PESAKO BETUAH secara filosofis mengandung pengertian sebagai berikut :
"Bahwa Kota Jambi sebagai Pusat Pemerintahan Kota sekaligus sebagai Pusat Sosial Ekonomi serta Kebudayaan juga mencerminkan jiwa masyarakatnya sebagai duta kesatuan baik individu, keluarga dan kelompok maupun secara institusional yang lebih luas, berpegang teguh dan terikat pada nilai-nilai adat istiadat dan hukum adat serta peraturan perundang-undangan yang berlaku."

Geografi & Topografi Kota Jambi
Dengan populasi penduduk sebesar 540.258 jiwa (±17% dari seluruh populasi penduduk Provinsi Jambi), mayoritas penduduk merupakan suku Melayu Jambi, sedangkan suku (suku bangsa) lain yang hidup berdampingan dengan harmonis di Kota Jambi, antara lain : Aceh, Banjar, Batak, Bugis, Flores, Habib (keturunan Arab), keturunan India, Jawa, Padang, Palembang, Papua, Sunda, dan Tiong-hoa (Hokhian, Techiu, Khek, Hainan).

Kota Jambi dengan luas wilayah ± 205.38 km² (berdasarkan UU No. 6 tahun 1986), terletak pada kordinat :
01° 30’ 2.98"
-
01° 7’ 1.07"
Lintang Selatan
103° 40’ 1.67"
-
103° 40 0.23"
Bujur Timur

Koordinat tersebut menunjukkan keberadaan Kota Jambi yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera. Secara geomorfologis Kota Jambi terletak di bagian Barat cekungan Sumatera bagian selatan yang disebut Sub-Cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatera Timur.

Ditilik dari topografinya, Kota Jambi relatif datar dengan ketinggian 0-60 m diatas permukaan laut. Bagian bergelombang terdapat di utara dan selatan kota, sedangkan daerah rawa terdapat di sekitar aliran Sungai Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang keseluruhan lebih kurang 1.700 km, dari Danau Atas - Danau Bawah (Sumatera Barat) menuju Selat Berhala (11 km yang berada di wilayah Kota Jambi) dengan kelebaran lebih kurang 500 m. Sungai Batanghari membelah Kota Jambi menjadi dua bagian disisi utara dan selatannya. Secara administratif berbatasan langsung dengan Kab. Muaro Jambi, Propinsi Jambi.

Sejarah Kota Jambi
Jambi sebagai daerah pemukiman atau pemusatan penduduk bahkan sebagai pusat kedudukan pemerintahan telah berjalan dari masa ke masa. Sejarah Dinasti Sung menguraikan bahwa Maharaja San-fo-tsi (Swarnabhumi) bersemayam di Chan-pi. Utusan dari Chan-pi datang untuk pertama kalinya di istana Kaisar China pada tahun 853M. Utusan ke dua kalinya datang pula pada tahun 871M. Informasi ini menorehkan bahwa Chan-pi (yang diidentifikasikan Prof. Selamat Mulyana sebagai Jambi) sudah muncul diberita China pada tahun - tahun tersebut. Dengan demikian Chan-pi atau Jambi sudah ada dan dikenal pada abad ke 9M. Berita China Ling Pio Lui (890-905M) juga menyebut Chan-pi (Jambi) mengirim misi dagang ke China.

Silsilah Raja-raja Jambi tulisan Ngebih Suto Dilago Priayi Rajo Sari pembesar dari kerajaan Jambi yang berbangsa 12, menulis Putri Selaro Pinang Masak anak rajo turun dari Pagaruyung di rajakan di Jambi. Dari sebutan Pinang dalam bahasa Jawa (Sunda) dilapas sebagai Jambe sehingga ditenggarai banyak orang sebagai asal kata Jambi. Jadi ada perubahan bunyi dan huruf dari Jambe ke Jambi. Identifikasi ini menginformasikan kata Jambe-Jambi terbuhul pada abad ke 15 yaitu di masa Puteri Selaro Pinang Masak memerintah dikerajaan Jambi Tahun 1460-1480.

Raden Syarif (yang kemudian diungkapkan kembali oleh Datuk Sulaiman Hasan) dari "Riwayat Tanjung Jabung Negeri Lamo" mencatat bahwa Puteri Selaro Pinang Masak mengilir dari Mangun Jayo ke Tanjung Jabung di pandu oleh sepasang itik besar (Angso Duo) yang mupur ditanah pilih pada tanggal 28 Mei 1401. Legenda Tanah Pilih ini berbeda versi dengan Ngebi Suto Dilago. Silsilah Raja-raja Jambi menyebut Orang Kayo Hitam (salah seorang putera dari pasangan puteri Selaro Pinang Masak dengan Ahmad Barus II/Paduko Berhalo) yang mengilir mengikuti sepasang itik besak (Angso Duo) atas saran petuah mertuanya Temenggung Merah Mato Raja Air Hitam Pauh.

Profesor Moh. Yamin mengidentifikasi Jambi berada disekitar Kantor Gubernur Jambi di Telanaipura sekarang. Indikasi ini atas dasar mulai dari kawasan Mesjid Agung Al-falah sampai ke Pematang pinggiran Danau Sipin terdapat deretan struktur batuan bata candi yang diantaranya menunjukan sebagai komplek percandian yang cukup besar dikawasan kampung Legok.

Tidak tertutup kemungkinan penemuan tanah pilih oleh sepasang Angso yang mupur tersebut adalah pembukaan kembali Kota Chan-pi yang ditinggal karena kerajaan SwarnaBhumi (San-fo-tsi) diserang oleh Singosari dalam peristiwa Pamalayu tahun 1275M dan pindah ke pedalaman Batang Hari yang kemudian dikenal sebagai Darmasraya (Sumatera Barat). Dua Puteri Melayu/Darmasraya yaitu Dara Petak dan Dara Jingga diboyong oleh Mahisa Anabrang ke Singosari pada tahun 1292. Ternyata di saat itu Singosari telah runtuh oleh pemberontak dan kemudian mendapat serbuan tentara Khu Bilaikhan. Singosari berganti menjadi Majapahit dengan Rajanya Raden Wijaya. Salah seorang keturunan Puteri melayu itu yaitu dari pasangan Dara Jingga yaitu Adityawarman kembali ke Darmasraya kemudian mendirikan dan menjadi Raja di Pagaruyung (1347-1375M). Anaknya yang bernama Ananggawarman meneruskan teratah kerajaan Pagaruyung. Keturunan Ananggawarman salah satunya adalah Puteri Selaro Pinang Masak yang dirajakan di Jambi.
Setelah Orang Kayo Hitam dirajakan pusat kerajaan dipindahkan dari Ujung Jabung ke Tanah Pilih Jambi disekitar awal abad ke 16. Jadilah Jambi kembali sebagai tempat kedudukan Pemerintahan.

Pangeran Depati Anom yang naik tahta dikerajaan Jambi bergelar Sultan Agung Abdul Jalil (1643-1665M) pernah memberikan surat izin untuk mendirikan pasar tempat berjual beli di Muaro Sungai Asam pada seorang Belanda bernama Beschseven. Izin Sultan tersebut tertanggal 24 Juni 1657 dimana lokasi yang diizinkan itu kemudian berpindah dari Muaro Sungai Asam ke sekitar Muaro Sungai di bawah area WTC Batang Hari sekarang.

Jambi sebagai pusat pemukiman dan tempat kedudukan raja terus berlangsung. Istana yang dibangun di Bukit Tanah Pilih disebut sebagai istana tanah pilih yang terakhir sebagai tempat Sultan Thaha Saifuddin dilahirkan dan dilantik sebagai sultan tahun 1855. Istana Tanah Pilih ini kemudian di bumi hanguskan sendiri oleh Sultan Thaha tahun 1858 menyusul serangan balik tentara Belanda karena Sultan dan Panglimanya Raden Mattaher menyerang dan berhasil menenggelamkan 1 kapal perang Belanda Van Hauten di perairan Muaro Sungai Kumpeh.

Dari puing - puing Istana Tanah Pilih oleh Belanda dikuasai dan dijadikan tempat markas serdadu Belanda. Praktis setelah Sultan Thaha Saifuddin gugur tangga 27 April 1904 Belanda secara utuh menempatkan wilayah kerajaan Jambi sebagai bagian wilayah kekuasaan Kolonial Hindia Belanda. Jambi kemudian berstatus Under Afdeling di bawah Afdeling Palembang. Pada Tahun 1906 Under Afdeling Jambi ditingkatkan sebagai Afdeling Jambi kemudian di tahun 1908 Afdeling Jambi menjadi Kerisidenan Jambi dengan residennya O.L. Helfrich berkedudukan di Jambi. Sampai masa Kemerdekaan pejabat Residen dari Keresidenan Jambi berkedudukan di Jambi. Setelah Republik Indonesia di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, berdasarkan berita RI Tahun II No. 07 hal 18 tercatat untuk sementara waktu daerah Negara Indonesia di bagi dalam 8 Provinsi yang masing - masing dikepalai oleh seorang Gubernur diantaranya Provinsi Sumatera. Provinsi Sumatera ini kemudian pada tahun 1946 dibagi lagi dalam 3 sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sub Provinsi Sumatera Tengah dan Sub Provinsi Sumatera Selatan. Keresidenan Jambi dengan hasil voting dimasikan ke dalam wilayah Sub Provinsi Sumatera Tengah.

Residen Jambi yang pertama di masa Republik adalah Dr. Asyagap sebagaimana tercantum dalam pengumuman Pemerintah tentang pengangkatan residen, Walikota di Sumatera dengan berdasarkan pada surat ketetapan Gubernur Sumatera tertanggal 03 Oktober 1945 No. 1-X.

Pada tahun 1945 tersebut sesuai Undang-undang no.1 tahun 1945 wilayah Indonesia terdiri dari Provinsi, Karesidenan, Kewedanaan dan Kota. Tempat kedudukan Residen yang telah memenuhi syarat, disebut Kota tanpa terbentuk struktur Pemerintahan Kota. Dengan demikian Kota Jambi sebagai tempat kedudukan Residen Keresidenan Jambi belum berstatus dan memiliki pemerintahan sendiri. Kota Jambi baru diakui berbentuk pemerintahan ditetapkan dengan ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 tahun 1946 tertanggal 17 Mei 1946 dengan sebutan Kota Besar dan Walikota pertamanya adalah Makalam
Mengacu pada Undang-undang No. 10 tahun 1948 Kota Besar menjadi Kota Praja. Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 18 tahun 1965 menjadi Kota Madya dan berdasarkan Undang-undang No. 22 tahun 1999 Kota Madya berubah menjadi Pemerintah Kota Jambi sampai sekarang.

Dengan Undang-undang No. 19 Tahun 1958 Keresidenan Jambi sebagai bagian dari Provinsi Sumatera Tengah dikukuhkan sebagai Provinsi Jambi yang berkedudukan di Jambi. Kota Jambi sendiri pada saat berdirinya Provinsi Jambi telah berstatus Kota Praja dengan Walikotanya R. Soedarsono.

Tanggal penetapan Kota Jambi sebagai Kota Praja yang mempunyai Pemerintahan sendiri sebagai Pemerintah Kota dengan ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 Tahun 1946 tertanggal 17 Mei 1946 dipilih dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Jambi No. 16 Tahun 1985 dan disahkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi No. 156 Tahun 1986, tanggal 17 Mei 1946 itu sebagai Hari Jadi Pemerintah Kota Jambi. (Drs.H.Junaidi.T.Noor.MM).
Setelah era reformasi, terjadi perubahan struktur Pemerintah Kota Jambi, yang berdasarkan UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU no. 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah), Walikota sebagai Kepala Daerah, didampingi oleh Wakil Walikota.


Thursday, October 24, 2013

Kabupaten Bungo


Kabupaten Bungo adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari hasil pemekaran Kabupaten Bungo Tebo tanggal 12 Oktober 1999. Luas wilayahnya 4.659 km² (9,80% dari luas Provinsi Jambi) dengan populasi 303.135 jiwa (Sensus Penduduk Tahun 2010). Kabupaten ini beribukota di Muara Bungo. Sebelumnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Bungo Tebo. Kabupaten ini terdiri dari 17 kecamatan. Kabupaten ini memiliki kekayaan alam yang melimpah diantaranya sektor perkebunan yang ditopang oleh karet dan kelapa sawit dan sektor pertambangan ditopang oleh batubara. Selain itu Kabupaten Bungo juga kaya akan emas yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bungo.

Lambang Kabupaten Bungo
Lambang bagi suatu daerah memiliki arti yang teramat dalam. Dari suatu lambang dapat di ketahui karakteristik suatu daerah dan juga kehidupan masyarakatnya. Begitu bermaknanya arti sebuah lambang, maka untuk membuatnyapun tidak segampang membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan orang-orang yang pandai untuk membuat suatu lambang dan arti dari lambang yang dibuat tersebut.
Sampai saat ini, mungkin masih sedikit masyarakat Bungo yang mengetahui arti dari setiap gambar dan garis yang ada pada lambang Kabupaten Bungo.

Jumlah Kelopak Bunga Jambu Lipo Sebanyak 8 Helai
Melambangkan Kabupaten Bungo terdiri dari 8 buah eks marga yaitu Bathin II Ilir, Bathin II Babeko, Bathin VII Pelepat, Bathin III Ulu, Bathin V/VII Tanah Tumbuh, Tanah Sepenggal dan Jujuhan. Kemudian Bathin II Ilir dan Bathin II Babeko menjadi Kecamatan Muara Bungo, Bathin II Ulu dan Bathin VII menjadi Kecamatan Rantau Pandan, Marga Pelepat Menjadi Kecamatan Pelepat, Bathin V/VII menjadi Kecamatan Tanah Tumbuh, Marga Tanah Sepenggal menjadi Kecamatan Tanah Sepengggal dan Marga Jujuhan menjadi Kecamatan Jujuhan.
Ketayo Pelito dan Keris dengan latar belakang gung
Ketoya Pelito merupakan alat penerang/lampu, karya khas masyarakat Bungo serta Simbolis mengandung arti sebagai pelita yang tak kunjung padam adalah simbol masyarakat daerah ini yang tak kenal menyerah.
Keris dengan Lima Letukan Ujung Lancip yang berdiri tegak lurus dibelakang ketayo
Adalah lambang perjuangan menentang penjajahan dan kemelaratan, dimana hal ini merupakan semangat juang terus hidup sepanjang zaman berdasarkan dan dipimpin oleh hikmah. Serta melambangkan lima induk UU sebagai dasar hukum (adat), dasar kehidupan dan penghidupan masyarakat.
Kubah Mesjid
Melambangkan keagamaan dan ketaqwaan serta kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, di mana masyarakat Kabupaten Bungo sangat meyakini dalam semua aspirasi dan etika masyarakat tidak akan tercapai tanpa ridho Tuhan YME, karena kepada-Nya lah manusia berserah diri.
Sembilan Belas Biji Padi dan Sepuluh Kuntum Bungo Dani saling impit rangkai diikat sebuah pita
Melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat. Sedangkan jumlah biji sebanyak 19 buah sebagai lambang 19 dan 10 kuntum Bungo Dani sebagai lambang bulan 10, dimana tanggal dan bulan ini Daerah Tingkat II Kabupaten Bungo Tebo di resmikan yang tetap dipertahankan simbol Kabupaten Bungo sebagai kabupaten induk.
Pita Bertulis Motto Kabupaten Bungo dalam bahasa daerah bertulis langkah serentak limbai seayun yang bermaksud :
  • Sebagai pernyataan bahwa anak negeri mempunyai sifat watak dan pendirian. Satu kata lahir dengan batin, sekato mulut dengan hati, satu kato dengan pembicaraan.
  • Anak negeri seiyo sekato bersama-sama pemimpin dalam membangun derah, mengutamakan musyawarah dan mufakat, memelihara persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
  • Masyarakat Kabupaten Bungo yang berdiam didalam negeri berpagar.
Undang, rumah berpagar adat, tepian berpagar baso, haruslah tudung menudung bak daun sirih, jahit menjahit bak daun petai, hati gajah sama dilapah, hati tungau sama dicecah, adat sama diisi, lembgo sama-sama dituang, peritah samo dipatuhi, bak saluko adat Berat samo dipikul ringan samo dijinjing, kebukit samo mendaki kelurah samo menurun ado samo dimakan idak samo dicari, seciap bak ayam sedencing bak besi, kok malang samo merugi bak balado samo mendapat serta terendam samo basah terampai samo kering.
Anak Negeri seukur, satu kata batin dengan penghulu (pimpinan) selarik sejajar, cerdik sehukum, malam seagama, tuo-tou searah seayun, anak-anak negeri seiyo sekato barulah bumi aman padi menjadi, rumput mudo kerbaunyo gemuk, baumo mendapat padi, menambang mendapat emeh (emas), buah-buahan segalo menjadi, baru basuo bak kato seluko adat keayik cemetik keno, kedarat durian gugur, lemang terbujur diatas dapur, anak negeri aman makmur.
Garis tebal berliku-liku sebanyak empat buah melambangkan adanya empat sungai besar dalam daerah Kabupaten Bungo yaitu Sungai Batang Tebo, Sungai Batang Bungo, Sungai Batang Pelepat dan Sungai Batang Jujuhan, dimana sungai-sungai tersebut sangat potensial sebagai sumber kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Dua garis tebal vertikel dan dua buah garis horizontal yang menjadi enam buah ruang yang hampir sama ukurannya.
Melambangkan bahwa Kabupaten Bungo adalah sebanyak enam kecamatan yaitu Muara Bungo, Tanah Tumbuh, Pelepat, Tanah Sepenggal, Rantau Pandan dan Jujuhan.
Rantai yang terletak pada posisi antara dua garis tebal melambangkan Kabupaten Bungo sebagai kabupaten induk berdiri tahun 1945. Sebagai simbol persatuan dan disiplin, sedangkan mata rantai yang berjumlah 65 buah melambangkan tahun 65 (1965) sebagai tahun berdirinya Kabupaten Bungo.
Warna Lambang :
  • Merah, lambang keberanian yang terletak pada tulisan langkah Serentak Limbai Seayun dan Kabupaten Bungo serta pada api.
  • Hijau, lambang kesuburan terletak pada dasar lambang (hijau muda) dan kubah mesjid.
  • Kuning, lambang kebesaran terletak pada padi, gung dan latar belakang kubah mesjid.
  • Hitam, lambang kesetiaan terletak pada dua garis tebal pinggir dan garis pembagi lambang.
  • Putih, lambang kesucian terletak pada pita, kelompak Jambu Lipo dan pada Bungo Dani.
Pengertian Lambang :
  • Keagamaan, disimbolkan dengan melambangkan Kubah Mesjid.
  • Perjuangan, disimbolkan dengan Keris dan Pelito.
  • Perikehidupan rakyat, disimbolkan dengan padi dan Garis Sungai.
  • Kebudayaan, disimbolkan dengan Ketayo dan Gung. 
     
    Topografi Kabupaten Bungo
    Kabupaten Bungo terletak di bagian barat Provinsi Jambi dengan luas wilayah sekitar 7.160 km2. Wilayah ini secara geografis terletak pada posisi 101º 27’ sampai dengan 102º 30’ Bujur Timur dan di antara 1º 08’ hingga 1º 55’ Lintang Selatan. Berdasarkan letak geografisnya Kabupaten Bungo berbatasan dengan Kabupaten Tebo dan Kabupaten Darmasraya (Sumbar) di sebelah utara, Kabupaten Tebo di sebelah timur, Kabupaten Merangin di sebelah selatan, dan Kabupaten Kerinci di sebelah barat. Wilayah Kabupaten Bungo secara umum adalah berupa daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 70 hingga 1300 M dpl, di mana sekitar 87,70 persen di antaranya berada pada rentang ketinggian 70 hingga 499 M dpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bungo berada pada Sub Daerah Aliran Sungai (Sub-Das) Sungai Batang Tebo. Secara geomorfologis wilayah Kabupaten Bungo merupakan daerah aliran yang memiliki kemiringan berkisar antara 0 – 8 persen (92,28 persen).Sebagaimana umumnya wilayah lainnya di Indonesia, wilayah Kabupaten Bungo tergolong beriklim tropis dengan temperatur udara berkisar antara 25,8° - 26,7° C. Curah hujan di Kabupaten Bungo selama tahun 2004 berada di atas rata-rata lima tahun terakhir yakni sejumlah 2398,3 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 176 hari atau rata rata 15 hari per bulan dan rata rata curah hujan mendekati 200 mm per bulan.

    Tempat Kunjungan Wisata
    Kabupaten Bungo kaya akan obyek-obyek wisata yang dapat dikembangkan di masa mendatang. Obyek-obyek tersebut antara lain:


    1. Air Terjun Tegan Kiri, terdapat di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, berjarak ± 31 Km dari ibukota kabupaten.
    2. Gua alam, terletak di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, dan di Desa Sungai Beringin, Kecamatan Pelepat, berjarak ± 31 Km dan ± 40 Km dari ibukota kabupaten.
    3. Sumber air panas, terdapat di Kecamatan Tanah Tumbuh, berjarak sekitar 41 Km dari ibukota kabupaten.
    4. Wisata alam, berupa Dam Semagi di Kecamatan TanSti Tumbuh, berjarak sekitar 40 Km dari ibukota kabupaten
    5. Air Terjun Punjung Empat, Penamaan air terjun ini karena airnya berasal dari Bukit Punjung dengan puncak tinggi bertingkat. Terletak di Rantau Keloyang Kecamatan Pelepat. Anda dapat tiba di sana dengan berkendaraan roda empat sepanjang 26 Km dan kemudian 4 km lagi masih harus berjalan kaki. Anda tak perlu merasa sia-sia. Searah bagian hulu dengan air terjun ini terdapat tiga buah gua alam. Cerukan gua bervariasi antara 3,5 sampai 35 meter dengan ketinggian permukaan 3 - 7 meter. Siapa tahu nasib anda baik, maka anda dapat membawa sarang burung layang-layang yang mahal itu. Itupun kalau belum dipanen masyarakat desa. Gua ini disebut Gua Batu Luah Muaro.
    6. Bunga Bangkai (Amorphopallus titanum). Bunga Bangkai ini umumnya mempunyai tinggi 1 - 3 Meter dari permukaan tanah. Pada waktu mengembang menyebarkan aroma amis bau bangkai. Bau ini mengundang serangga (lalat, kembang). Vegitasi bunga terdiri dari batang yang tumbuh keras dari tanah dan di atasnya bebentuk makota bunga berbentuk selendang dengan kuncup atas berbentuk paku raksasa berwarna merah hati. Pada beberapa tempat di sudut perumahan masyarakat sering tumbuh jenis bunga bangkai yang vegitasinya rendah berbentuk Kol dengan warna merah hati. Pada saat mengembang diameter mahkota bunga hampir setengah meter.
    7. Gua Alam, Kendati tidak begitu besar, pada cerukan bukit di Dusun Lubuk Mayan lebih kurang 20 Km dari Muara Bungo dan juga Goa Alam ini terdapat di Dusun Apung Mudik yang tidak jauh dari Dusun lubuk Mayan Kecamatan Rantau Pandan. Goa alam di Dusun Lubuk Mayan dikenal masyarakat sebagai Goa Kelelawar. Ribuan kelelawar beterbangan membentuk barisan menghitam bila keluar atau masuk goa dikala menjelang malam atau menjelang subuh hari dan ini merupakan suatu atraksi alam yang sukar dicari di tempat lain dalam lingkungan alam yang masih lestari. Asal anda jeli maka akan terlihat sang pimpinan yang bertubuh sedikit besar dari yang lainnya. Tempat bergantungnyapun tertentu seolah mahligai kebesaran berada di relung tinggi. Beda jika anda memasuki Goa di Dusun Apung Mudik Kecamatan Rantau Pandan. Berbagai bentuk Batu Granit akan ditemukan di sela lelehan air menembus bak lilin. Masyarakat dusun menyebutnya Goa itu Goa Tetesan Lilin. Tak jauh dari Goa bila melayang di atas sungai akan dijumpai sebuah lubuk dengan air berpusar berdiameter hampir 10 meter. Menurut cerita pusaran air terjadi karena ada cerukan batu atau lubang yang mempunyai hubungan dengan suatu daerah bunian (makluk halus).

    Wednesday, October 23, 2013

    Kabupaten Batanghari

    Lambang Kabupaten Batanghari
    Arti Lambang :

    Lambang Berbentuk Perisai Segilima Yang Dilingkari Garis Putih Yang Menunjukkan Kesucian.
    Di Dalamnya Terdapat Warna Hijau Menunjukkan Kesuburan.
    Pucak Masjid Melambangkan Kepercayaan rakyat/yang sebagian Besar Beragama Islam.
    Di Dalamnya Terdapat Warna Kuning Menunjukkan Kekayaan dan Keagungan, Kebesaran Rakyat Batang Hari.
    Sedangkan Warna Biru Menunjukkan Sungai Batanghari.
    Sungai Bercabang Dua Menunjukkan Geografis Batang Hari, Cabang ke Kiri adalah Sungai Batangtembesi, Cabang Kekanan Sungai Batanghari.
    Keris Siginjai Menunjukkan Lambang Kerajaan-Kerajaan Dan Perjuangan Rakyat Jambi Termasuk Rakyat Batang Hari Dalam Melawan Penjajah.
    Menara Minyak Melambangkan Terdapatnya Tambang Minyak.
    Pohon Karet Menandakan akan Kesuburan/Kekayaan Alamnya.
    Kabupaten Batang Hari, Serentak Bak Regam, yang Artinya menunjukkan watak dan adat yang seiya sekata (musyawarah dan mufakat).

    Sejarah Kabupaten Batanghari
    Kabupaten Batanghari dengan filosofi “ Serentak Bak Regam “ beribukota Muara Bulian dibentuk Tanggal 1 Desember 1948 melalui Peraturan Komisaris Pemerintah RI di Bukit Tinggi No.81/Kom/U tanggal 30 Nopember 1948 dengan Pusat Pemerintahan waktu itu di Jambi, Sekarang kota Jambi, dan merupakan satu dari 11 Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi, sedang Provinsi Jambi dibentuk dengan UU Darurat No.19 tahun 1957 bersamaan dengan pembentukan Provinsi Sumatera Barat dan Riau.
    Secara historis, pada masa pemerintahan Nurdin sebagai Bupati Pertama 1950 -1952 kawasan Batang Hari masih belum memiliki otonomi dan kedudukan pusat pemerintahan sebagai Daerah Tk. II secara pasti, ini berlangsung hingga masa kepemimpinan M.Djamin Datuk Bagindo 1952-1963, dan Abdul Manaf Bupati ketiga 1953-1954.
    Namun demikian pembangunan di kawasan Kabupaten Batang Hari terus berjalan. Sejak tahun 1954 cikal bakal pemimpin-pemimpin wilayah Batanghari dalam hal memperbaiki mekanisme pemerintahan daerah serta mewujudkan berbagai apek pembangunan mulai dirintis sebagai langkah awal menuju pembangunan berikutnya.
    Tahun 1954-1956 Batanghari dipimpin oleh Bupati Madolangeng, Tahun 1956-1957 R. Sunarto, tahun 1957-1958 dipimpin oleh Ali Sudin, dan Tahun 1958-1966 saat dipimpin oleh H. Bakri Sulaiman terjadi perubahan otoritas pemerintahan. Tahun 1963 Pusat pemerintahan Kabupaten Batang Hari dipindah ke KM.10 Kenali Asam (saat ini masuk wilayah Kota Jambi). Tahun 1965 sesuai UU No.7 Tahun 1965, Kabupaten Batang Hari dimekarkan menjadi 2 Daerah Tingkat II yakni Kabupaten Dati II Batang Hari yang beribukota KM. 10 Kenali Asam dan Kabupaten Tanjung Jabung yang beribukota Kuala Tungkal. Tahun 1966-1968 Kabupaten Batang Hari dipimpin Drs. H.Z. Muchtar DM dan tahun 1968-1979 dilanjutkan oleh Rd. Syuhur. Tahun 1979 Pusat Pemerintahan Kabupaten Batang Hari dipindahkan dari Km. 10 Kenali Asam ke Muara Bulian berdasarkan UU NO. 12 Tahun 1979 dan diresmikan oleh Mendagri Bapak Amir Machmud tanggal 21 Juli 1979. Tahun 1981-1991 Kabupaten Batanghari dipimpin oleh Drs.H. Hasip Kalimuddinsyam. Tahun 1991-2001 Batanghari dipimpin oleh Bupati H.M. Saman Chatib, SH. sejalan dengan era reformasi dan tuntutan otonomi daerah Kabupaten Batang Hari. Berdasarkan UU. No. 54 tahun 1999 dimekarkan kembali menjadi 2, yakni Kabupaten Batang Hari yang beribukota Muara Bulian dan Kabupaten Muaro Jambi yang beribukota Sengeti yang peresmian dilakukan oleh Mendagri di Jakarta bulan Oktober 1999, sehingga saat ini Kabupaten Batanghari memiliki luas wilayah 5.809,43 Km persegi, berpenduduk sampai Desember 2010 sebanyak 240.763 jiwa tersebar pada 8 Kecamatan dengan 100 Desa dan 13 Kelurahan.
    Tahun 2001-2006 Kabupaten Batang Hari dipimpin oleh H. Abdul Fattah, SH dengan Wakilnya Ir. Syahirsah, Sy yang menjadi Wakil Bupati pertama sejak Batang Hari berdiri. Tahun 2006-2011 Kabupaten Batanghari dipimpin oleh Bupati Ir. Syahirsah, Sy dengan Wakil Bupati H. Ardian Faisal, SE, MSi (Putra HM. Saman Chatib, SH), sebagai Bupati dan Wakil Bupati yang dipilih langsung oleh rakyat untuk yang pertama kali melalui proses Pilkada Langsung. Tahun 2011 Kabupaten Batang Hari dipimpin oleh H. Abdul Fattah, SH dan Sinwan, SH yang menjadi Bupati dan wakil Bupati Batang Hari periode 2011-2016.
    Kabupaten Batang Hari mengalami dua kali pemekaran, yang pertama sesuai UU No.7 Tahun 1965 Kabupaten Batang Hari dimekarkan menjaddi dua Daerah Tingkat II, yakni Kabupaten Batang Hari beribukota Kenali Asam dan Kabupaten Tanjung Jabung yang beribukota Kuala Tungkal, Kedua, sesuai dengan UU No. 54 Tahun 1999 Kabupaten BatangHari kembvali dimekarkan menjadi Dua Kabupaten yakni Kabupaten Batang Hari dengan Ibukota Muara Bulian dan Kabupaten Muaro Jambi beribukota Sengeti.

    Topografi Kabupaten Batanghari

    Peta. Kabupaten Batanghari
    Kabupaten Batang Hari terletak di bagian tengah Provinsi Jambi dengan luas wilayah 5.180,35 Km2. Kabupaten Batang Hari secara geografis terletak pada posisi 1º15’ lintang selatan sampai dengan 2º2’ lintang selatan dan diantara 102º30’ bujur timur sampai dengan 104º30’ bujur timur. Dalam lingkup provinsi letak Kabupaten Batang Hari berada di wilayah bagian tengah provinsi dan merupakan daerah perbukitan.
    Kabupaten ini pada akhir tahun 2000 mempunyai jumlah penduduk 191.727 jiwa. Dilihat dari struktur umur, sekitar 60,19 persen adalah penduduk usia produktif dan sisanya 39,81% kaum lanjut usia, dan anak-anak yang memerlukan sentuhan investasi untuk menjadikan mereka generasi yang berkualitas di masa depan. Penduduk di daerah ini terdiri dari berbagai sukiu seperti : Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Minang, Cina, dan Suku-suku lain yang jumlahnya relatif kecil.

    Berdasarkan letak geografisnya Kabupaten Batanghari berbatasan :
    - Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
    - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Sumatera Selatan.
    - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi.
    - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tebo.

    Kondisi geologi dan struktur tanah yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Batang Hari antara lain didominasi oleh Neogin seluas 283.986 Ha diikuti endapan seluas 171.662 Ha dan Tufa Vulcan seluas 84.472 Ha.
    Kabupaten Batang Hari beriklim tropis dengan temperatur udara berkisar antara 20-30 derajat celcius. Hasil pengamatan dalam 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan bahwa jumlah curah hujan rata-rata pertahun berkisar antara 2.264,6 – 2.976,4 mm dengan kelembaban antara 62,66 – 84,55 persen serta penyinaran berkisar antara 89,3 – 133,9 persen. Curah hujan di Kabupaten Batang Hari selama tahun 2004 berjumlah 2.398,3 mm dengan banyaknya hari hujan 176 hari. Rata-rata curah hujan per bulan berkisar 199,9 mm sementara rata-rata jumlah hari hujan perbulan adalah 14 hari.
    Wilayah Kabupaten Batang Hari dilalui oleh dua sungai besar yaitu Batang Tembesi dan Sungai Batanghari. Beberapa sungai lainnya yang relatif besar antara lain adalah Sungai Dangun Bangko, Sungai Kayu Aro, Sungai Rengas, Sungai Lingkar, Sungai Kejasung Besar, Sungai Jebak. Disamping sungai besar tadi terdapat pula beberapa sungai kecil yang merupakan anak-anak sungai yaitu Sungai Singoan, Sungai Bernai, Sungai Mersam, Sungai Bulian, Sungai Kandang, Sungai Aur, Sungai Bacang dan lain – lain.

    Tempat Kunjungan Wisata:
    Wisata Budaya
    1. Rumah Adat Batang Hari di Kecamatan Muara Bulian
    2. Seni Budaya Suku Anak Dalam di Desa Bukit Tembesu Sungai Ruan dan Bungku
    3. Gugus Candi di Desa Lubuk Ruso
    4. Kerajinan Ukiran Kayu di Desa Pulau Betung
    5. Kerajinan Rotan di Desa Ratau Kapas Tuo.
    6. Danau Ugo di Aur Gading Kecamatan Batin XXIV
    7. Danau Letang Jaya di Perumnas Muara Bulian.
    8. Danau Bangko di Kecamatan Pemayung
    9. Goa Tengkorak di Bukit Paku Kecamatan Muara Tembesi
    10 Benteng di Kecamatan Muara Tembesi (Peninggalan Jepang)
    11. Taman Rekreasi Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian 
    Wisata Alam
    Objek wisata alam di Kabupaten Batang Hari meliputi wisata air di Sungai Batang Hari, Taman Hutan Rakyat Senami, Kelurahan Sridadi Kecamatan Muara Bulian, Taman Hutan Sengkati dan Taman Hutan Kota Muara Bulian.