Showing posts with label jambi. Show all posts
Showing posts with label jambi. Show all posts

Monday, January 27, 2014

Tarian Selamat Datang Jambi


Seseorang yang dianggap orang penting yang melancong ke tanah Jambi pastilah beruntung, karena akan disuguhkan gerak tari yang lembut dan halus yang diiringi musik dan lantunan syair yang agung. Tari tersebut adalah "Tari Sekapur Sirih", tari ini merupakan  tarian selamat datang kepada tamu-tamu besar di Jambi.

Tarian ini diciptakan oleh Firdaus Chatab pada tahun 1962, pada tahun 1967 tarian ini ditata ulang oleh OK Hendri BBA. Tari ini mendeskripsikan perasaan lapang dan terbuka yang dimiliki orang-orang Jambi terhadap tamu yang berkunjung ke daerah mereka. Jumlah penari dalam tarian ini adalaha sembilan (9) orang penari wanita dan tiga (3) orang penari pria. Diantara duabelas (12) penari tersebut satu orang bertugas memegang payung, dua orang pengawal dan sisanya menari.

Gerakan melenggang, sembah tinggi, merentang kepak, berhias (memasang cincin, gelang, anting serta bedak gincu dan calak), gerakan putar setengah, putar penuh menjadi bagian dari tarian ini. Gerakan tersebuut dilakukan dalam posisi level rendah dan sedang, sedangkan pola lantai yang dimainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat pementasan. Apabila dilakukan di gedung atau indoor pola lantai dapat dilakukan namun apabila diluar gedung atau outdoor pola lantai jarang dilakukan.

Cerano atau wadah yang berisikan lembaran daun sirih, payung, keris merupakan peralatan yang digunakan dalam tarian ini. Untuk pakaian, para penari mengenakan "Baju Kurung" adat jambi. Senandung lagu rakyat "Jeruk Purut" dan suara biola dan akordion berlanggam melayu dan ditemani oleh gambus, gong dan gendang turut mengiringi tarian ini.

Para penari berhias tubuhnya dengan balutan songket, baju kurung dalam, sedangkan hias kepala berupa sunting yang terdiri dari kembang goyang, beringin dan cempaka. Pemanis lain yang juga digunakan adalah teratai, pending dan gelang. Seiring dengan perkembangan zaman aksesoris yang dipakaipun bertambah, seperti : gelang kilat bahu, gelang kano, gelang pipih dan gelang buku beban atau juga disebut gelang puru, sedangkan sanggul lipat pandan, sunting beringin dan kembang goyang menjadi perhiasan untuk kepala.

Sebenarnya nama atau istilah dari tarian ini cukup beragam sama dengan beragamnya varian tarian ini, salah satunya adalah Tari Penyambutan. Pada mulanya tarian ini disebut Tarian Persembahan, kemudian mengalami perubahan menjadi Tari Penyambutan. Bedanya dengan Tari Sekapur Sirih bahwa tari penyambutan merupakan tari kreasi baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejei. Jumlah penari disesuaikan dengan tempat, bisa pria bisa wanita, atau bisa juga berpasangan.

Masyarakat Rejang Lembak menyebut Tari Penyambutan dengan sebutan Tari Kurak, meskipun pada akhirnya nama Tari Penyambutan dipilih untuk dibakukan. Musik dan alat musik dalam Tari Penyambutan ini menggunakan musik Kejei. Gerakan tarian ini terdiri dari sembah tari, yaitu tangan diangkat di atas bahu. Kemudian penari akan melakukan sembah tamu, yaitu gerakan yang menangkat tangan ke atas dada. Setelah itu penyerah sirih melakukan gerakan setengah jongkok dan setengah berdiri untuk tarian yang dilakukan di luar rumah, sementara itu gerakan lantai dilakukan untuk tarian yang dilakukan di dalam rumah.

Friday, January 24, 2014

Kontroversi Seputar Jambi

Kata "JAMBI" sebagai sebutan untuk daerah Provinsi Jambi, memiliki keanekaragaman hikayat tentang asal usul pemberian nama JAMBI. Ada beberapa cerita turun-temurun yang berkembang dikalangan masyarakat setempat yang berbeda, adanya kontroversi seputar nama JAMBI.

Berikut ini beberapa cerita tentang awal mulanya daerah ini diberi nama "JAMBI" :
  1. Nama "JAMBI" muncul sejak daerah yang berada di pinggiran Sungai Batanghari ini dikendalikan oleh seorang ratu bernama "Putri Selaras Pinang Masak" yaitu semasa keterikatan dengan Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu bahasan keraton masih dipengaruhi oleh bahasa jawa, misalnya dalam penyebutan buah pinang dalam bahasa jawa disebut "Jambe". Sesuai dengan nama ratunya "Pinang Masak" maka kerajaan tersebut dikatakan  Kerajaan Melayu Jambe, lambat laun rakyat setempat umumnya menyebut "JAMBI".
  2. Versi yang lain mengatakan, kemungkinan besar saat tanah pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan baru, pohon pinang banyak tumbuh disepanjang aliran Sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.
  3. Menurut buku sejarah "De Oudste Geschiedenis Van De Archipel" bahwa Kerajaan Melayu Jambi dari abad ke 7 sampai dengan abad ke 13 merupakan bandar atau pelabuhan dagang yang ramai. Di sini berlabuh kapal-kapal dari berbagai negara, seperti : Portugis, India, Mesir, Cina, Arab dan Eropa lainnya. Berkenaan dengan itu, sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago menceritakan bahwa sebelum Kerajaan Melayu jatuh kedalam pengaruh Hindu, seorang putri melayu bernama Puteri Dewani berlayar bersama suaminya dengan kapal niaga Mesir ke Negeri Arab, dan tidak kembali. Pada waktu lain,  seorang puteri melayu lain bernama Ratna Wali bersama suaminya berlayar ke Negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani  dengan kapal niaga Arab. Kedua peristiwa dalam legenda itu menunjukkan adanya hubungan antara orang Arab dan Mesir dengan Melayu. Mereka sudah menjalin hubungan komunikasi dan interaksi secara akrab. Kondisi tersebut melahirkan interpretasi bahwa nama "JAMBI" bukan tidak mungkin berasal dari ungkapan-ungkapan orang Arab atau Mesir yang berkali-kali ke pelabuhan Melayu ini. Orang Arab atau Mesir memberikan julukan kepada orang rakyat Melayu pada masa itu sebagai "JAMBI", ditulis dengan aksara Arab, yang secara harfiah berarti : "Sisi" atau "Samping", secara kinayah (figuratif) berarti : "Tetangga" atau "Sahabat Akrab".
  4. Kata "JAMBI" ini sebelum ditemukan oleh Orang Kayo Hitam atau sebelum disebut Tanah Pilih, bernama Kampung Jam, yang berdekatan dengan Kampung Teladan, yang diperkirakan disekitar daerah Buluran Kenali sekarang, dari kata Jam inilah akhirnya disebut "JAMBI".
  5. Menurut Teks Hikayat Negeri Jambi, kata "JAMBI" berasal dari perintah seorang raja yang bernama Tun Telanai kepada anak buahnya untuk menggali kanal dari ibukota kerajaan hingga ke laut, dan tugas ini harus diselesaikan dalam tempo satu jam. Kata "jam" inilah yang kemudian menjadi asal kata "JAMBI".
Itulah beberapa versi cerita dari sudut pandang yang berbeda-beda tentang awal mula pemberian nama Jambi, perbedaan ini bukan untuk diperdebatkan tetapi perbedaan ini merupakan kekayaan hikayat Provinsi Jambi.

Thursday, January 23, 2014

Situs Kuno Rumah Batu



Rumah Batu Olakemang, tepatnya berada di jalan KH. Abdul Qodir Ibrahim RT. 02 Kelurahan Olak Kemang Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, Provinsi Jambi. Bangunan Rumah Batu ini menghadap ke Sungai Batanghari, sebab pada zaman dahulu kala jalur / jalan terbesar berada di pinggiran Sungai Batanghari, bukan di jalan protokol Kecamatan Danau Teluk saat  ini.




Rumah Batu Olakemang ini merupakan peninggalan seorang penyebar agama Islam di Kota Seberang pada abad ke 18 yaitu Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri atau yang dijuluki Pangeran Wiro Kusumo. Ketika akan membangun rumah batu ini, Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri mendapat banyak saran dari rekan-rekannya. Salah satunya adalah Datuk Sintai, seorang pedagang dari negeri Cina. Lewat tangan Datuk Sintai inilah rumah yang kini menjadi cagar budaya kebanggaan Jambi itu berdiri.


Keunikan Rumah Olakemang terdiri dari  dua lantai, mempunyai arsitektur perpaduan lokal, cina, arab dan eropa. Unsur lokal berupa rumah panggung, pengaruh cina pada bentuk atap, gapura dan ornamen-ornamen berbentuk naga, awan, bunga dan arca singa. Di pilar bagian dalam, tampak relief bertuliskan huruf-huruf arab sedangkan unsur eropa terlihat dari tiang-tiang panggung yang terbuat dari bahan bata dan semen berbentuk pilar menyangga bangunan di atasnya. Pada lantai bawah dilapisi ubin terakota sedangkan pada lantai kedua berupa papan kayu. Kedua lantai ini dihubungkan dengan tangga semen seperti layaknya tangga rumah bertingkat yang banyak dipakai pada bangunan indis.


Rumah yang oleh masyarakat  seberang kota Jambi dikenal sebagai Rumah Batu Olakemang ini telah terdaftar di Kantor Pariwisata Jambi sebagai tempat wisata. Namun situs wisata ini sepertinya hanya sebagai refferensi untuk observasi sejarah, karena disana belum disediakan sarana dan prasarana sebagai tempat objek wisata. Selain sarat nilai sejarah, Rumah Batu Olakemang sering didatangi pengunjung dengan berbagai keperluan seperti mengadakan penelitian, menjadikan lokasi ini sebagai tempat foto prawedding atau sekedar berkunjung untuk melihat-lihat saja.


Rumah Batu Olakemang ini juga sempat dijadikan bahan penelitian oleh Fiona Kerlogue seorang mahasiswi asal Inggris. Jurnalis dari CCTV (China), Taiwan Macroview (Taipeh), Metro TV (Indonesia), dan tidak ketinggalan wartawan media cetak diantaranya Harian China News Service (bahasa mandarin), Harian Indonesia Shang Bao (bahasa mandarin), sebelum meninggalkan Kota Jambi menyempatkan diri bertandang ke rumah batu peninggalan Pangeran Wiro Kusumo ini.

Wednesday, January 22, 2014

Situs Candi Solok Sipin

Situs Candi Solok Sipin terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Legok, Kota Jambi, Provinsi Jambi. Situs ini berasal dari periode klasik Hindu - Budha, didalam situs saat ini hanya tinggal puing-puing berupa pondasi batu bata bangunan Candi Solok Sipin.


Pada Candi Solok Sipin ini juga terdapat Archa Budha yang terbuat dari batu pasiran (Sand Stone) setinggi 1,72 meter yang di gambarkan dalam posisi berdiri memakai jubah. Kemudian di situs ini juga di temukan 2 buah makara, lapik dan stupa. baik archa maupun makara saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta, sedangkan lapik dan stupa tersimpan di Museum Negeri Jambi.


Riwayat penemuan dimulai dari catatan orang Belanda yang pernah datang ke Jambi, sedangkan riwayat pembangunan Candi Solok Sipin tidak bisa diketahui dengan pasti, belum ada penelitian yang mendalam tentang  keberadaan situs candi ini. Pada Archa Budha terdapat tulisan " Dang Acharrya Syuta ", berdasarkan tulisan itu dapat diperkirakan archa berasal dari abadi ke 8 M dan salah satu makara yang ditemukan memiliki angka Tahun 1064 M.


Sayang, baik lokasi situs maupun percandian ini sudah semakin terhimpit oleh pemukiman penduduk dan hanya beberapa bagian saja yang dapat diselamatkan. Lokasi yang berada di pemukiman padat penduduk ini sangat menyulitkan dalam mengidentifikasi struktur batu bata yang terdapat di Legok. Bahkan diatas gundukan tanah yang didalamnya terdapat reruntuhan candi itupun telah berdiri beberapa rumah penduduk.

Monday, January 13, 2014

Misteri Uhang Pandak

Gbr. Sketsa pensil W. Weatcroft (Januari 2008) sosok Uhang Pandak

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) banyak menyimpan misteri, salah satunya adalah tentang mahluk atau orang bunian yang dipercaya merupakan komunitas manusia hutan. Masyarakat setempat menyebutnya "Uhang Pandak" yang berarti orang bertubuh pendek atau orang pendek. Mereka adalah mahluk yang hidup di atas tanah, berjalan dengan kedua kakinya dengan tubuh di penuhi bulu-bulu pendek yang berwarna abu-abu hingga coklat dan memiliki tinggi tubuh sekitar 80 cm sampai 150 cm.

Cerita tentang Uhang Pandak telah di kisahkan secara turun-temurun di dalam kebudayaan masyarakat sekitar terutama Suku Anak Dalam (SAD) yang hidup di belantara hutan TNKS. Mungkin bisa dikatakan, Suku Anak Dalam atau suku kubu telah hidup berdampingan dengan Uhang Pandak di kawasan tersebut. Walaupun demikian jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada.

Uhang Pandak merupakan mahluk yang keberadaanya telah diketahui sejak puluhan tahun lalu, namun hingga saat ini sulit menemukan bukti fisik dan otentik tentang keberadaan mahluk ini. Keberadaan mahluk ini sendiri sering dilaporkan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan mahluk Uhang Pandak, banyak dari wisatawan dan peneliti dari mancanegara yang melakukan riset tentang alam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) secara tidak sengaja bertemu dengan kumpulan mahluk yang disebut Uhang Pandak ini.

Kesaksian yang paling terkenal adalah kesaksian Mr. Van Heerwarden pada tahun 1923. Beliau adalah seorang Zoologiest, yang pada saat itu sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Beliau menuliskan tentang pertemuannya dengan beberapa mahluk gelap dengan banyak bulu di badannya. Tinggi tubuh mereka beliau gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Van Heerwarden sadar, mereka bukan sejenis siamang atau primata lainnya. Ia tahu mahluk-mahluk itu menyadari keberadaannya saat itu, sehingga Uhang Pandak itupun berlari menghindari manusia.

Satu hal yang membuat Mr. Van Heerwarden terheran-heran, semua mahluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak layaknya manusia berjalan. Semenjak itu, Mr. Van Heerwarden terus berusaha mencari tahu mahluk apa tersebut, namun usahanya gagal dan tidak bisa menemukan kembali mahluk Uhang Pandak tersebut.

Selama tiga tahun terakhir, para peneliti lokal dan mancanegara telah menjelajahi hutan TNKS untuk menemukan bukti-bukti keberadaan komunitas Uhang Pandak. Mereka telah melakukan banyak cara, mulai dari memasang kamera trapping di wilayah hutan terutama daerah dimana sering terjadi laporan penampakan para mahluk tersebut sampai dengan pembuatan perangkap untuk menangkap salah satu dari mahluk itu.  Namun, usaha itu juga gagal dan tidak menemukan bukti-bukti keberadaan Uhang Pandak.

Para ahli merasa kuatir jika memang eksistensi keberadaan Uhang Pandak ini ada, bukan tidak mungking mereka sedang terancam kepunahan sebagai akibat dari aktifitas penebangan hutan dan penghancuran lingkungan atau habitat mereka.

Selain Uhang Pandak banyak komunitas orang bunian lain yang dipercaya oleh masyarakat di berbagai daerah. Sebagian kepercayaan tersebut bahkan mengatakan bahwa komunitas masyarakat orang bunian itu bukan komunitas mahluk halus, namun suatu mahluk yang mirip manusia yang memiliki sedikit perbedaan dengan mahluk manusia. Ada yang beranggapan bahwa mahluk orang bunian adalah ras manusia tersendiri dan merupakan bagian dari ras mahluk manusia kuno. 

Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari mahluk halus, binatang ataupun ras manusia yang berbeda. Dunia tentunya masih menyimpan misteri mereka yang harus terus dilakukan penelitian tentang kebenaran keberadaannya.

Friday, January 10, 2014

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)


Gbr. Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)
Salah satu jenis Harimau (Panthera Tigris) yang masih bertahan hidup di dunia adalah Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Harimau Sumatera merupakan harimau yang habitat aslinya berada di Pulau Sumatera, Indonesia. Harimau Sumatera memiliki ciri-ciri fisik, yaitu : 
  • Harimau Sumatera adalah harimau terkecil di spesiesnya, ukurannya yang kecil ini memudahkannya menjelajahi hutan rimba.
  • Memiliki warna yang paling gelap dari seluruh spesies harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga orange tua.
  • Pola warna hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet.
  • Harimau Sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60 cm.
  • Harimau Sumatera betina rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg.
  • Belang harimau ini lebih tipis daripada spesies harimau lainnya.
  • Memilik banyak janggut serta surai di bandingkan spesies harimau lainnya, terutama harimau jantan.
  • Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
  • Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan harimau ini mampu berenang dengan cepat. harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang.

Harimau Sumatera memangsa seekor babi
Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liarnya yang ada dibawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka  makan dapat terjaga. Hewan ini memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Hewan ini memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. hewan orang utan juga dapat di jadikan mangsa, walaupun jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah dan karena itu jarang di tangkap harimau. Selain itu semua ternyata Harimau Sumatera juga gemar makan buah durian.

Gbr. Hutan TNKS Sumatera
Harimau Sumatera ini mampu hidup dimanapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional TNKS, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian. Juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

Harimau Sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau ini terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali harimau ini ditangkap dan dibunuh karena tersesat memasuki daerah pemukiman warga atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Harimau Sumatera dapat berkembang biak kapan saja, masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun di kebun binatang pernah tercatat ada anak harimau yang lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama, sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada usia 6 bulan. Anak harimau ini dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri atau mandiri. Harimau Sumatera dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.

Gbr. Anak Harimau Sumatera
Harimau Sumatera termasuk satwa langka, dan termasuk ke dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (Critically Endangered). Populasi Harimau Sumatera ini di alam liar diperkirakan hanya tinggal 400-500 ekor saja, terutama hidup di taman-taman nasional Pulau Sumatera. Dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN, menyatakn bahwa Harimau Sumatera ini merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang masih ada di Indonesia setelah dua saudaranya Harimau Bali (Panthera Tigris Balica) dan Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) dinyatakan punah.

Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar Undang - Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan pasal 21 undang-undang ini pada poin (d) menyatakan bahwa "Setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia". Pelanggaran dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta.



Friday, January 3, 2014

Sungai Terpanjang di Pulau Sumatera

Sungai terpanjang di pulau Sumatera adalah Sungai Batanghari, sungai ini juga merupakan sungai terpanjang ke empat di Indonesia, dengan panjang kurang lebih 800 km dan lebar sungai antara 200-600 meter. Sungai Batanghari berasal dari kata "Batang" yang artinya Sungai dan "Hari", sehingga penyebutannya menjadi Sungai Hari. Namun, kebiasaan masyarakat lokal menyebut Sungai Hari tersebut dengan sebutan "Sungai Batanghari" dan berlaku sampai saat ini.

Gbr. Sungai Batanghari dari udara
Bagian terpanjang Sungai Batanghari dan muaranya memang terletak di Provinsi Jambi, sebagian kecil bagian hulunya di Provinsi Sumatera Barat. Sungai Batanghari merupakan aliran sungai yang mulai dari hulu sampai ke muaranya banyak menyimpan catatan sejarah, terutama yang berkaitan dengan peradaban Melayu. Catatan sejarah juga mencatat bahwa pada Sungai Batanghari ini lah pernah muncul suatu Kerajaan Melayu yang cukup disegani, yang kekuasaannya meliputi Pulau Sumatera sampai ke Semenanjung Malaya. Dan juga dahulunya sejak abad ke -7 sehiliran Sungai Batanghari ini sudah menjadi titik perdagangan penting bagi beberapa kerajaan yang pernah muncul di Pulau Sumatera seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Dharmasraya.

Mata air Sungai Batanghari berasal dari Gunung Rasan (2.585 m) dan yang menjadi hulu dari Sungai Batanghari ini adalah sampai kepada Danau Diatas, yang sekarang masuk kepada wilayah Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat dan mengalir ke selatan sampai ke daerah Sungai Pagu, sebelum berbelok ke arah timur. Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah yang ada di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi, seperti : Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari, Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebelum lepas ke perairan timur Sumatera dekat Muara Sabak.

Gbr. Transportasi Ketek di Sungai Batanghari
Sungai Batanghari memiliki banyak sungai lain yang bermuara padanya diantaranya adalah : Sungai Batang Sangir, Sungai Batang Merangin, Sungai Batang Tebo, Sungai Batang Tembesi dan lain sebagainya. Sistem aliran sungai ini membawa banyak deposit emas, sehingga muncul nama legendaris "Swarnadwipa" (Pulau Emas) sebagai julukan dalam bahasa Sanskerta bagi Pulau Sumatera. Sama seperti sungai-sungai besar lainnya di Indonesia, Sungai Batanghari banyak dimamfaatkan untuk kebutuhan air sehari-hari, pengairan, transportasi air dan perikanan.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) kurang lebih 4,9 juta hektar. Sekitar 76% DAS Batanghari berada pada Provinsi Jambi dan sisanya berada pada Provinsi Sumatera Barat. 

Gbr. Kegiatan Pertambangan Emas
Adanya aktifitas pertambangan dan kegiatan pengusahaan (eksploitasi) hutan yang dilakukan secara mekanis sepanjang aliran sungai, telah berdampak terhadap berubahnya alur sungai, erosi di tepian sungai, pendangkalan atau sedimentasi yang tinggi di sepanjang aliran DAS Batanghari terutama sebelah hilir. Perubahan alur dan arah arus Sungai Batanghari ini mengakibatkan air sungai dengan cepat naik pada saat musim hujan datang, dan sebaliknya cepat surut saat musim kemarau. Hal ini juga diperburuk dengan meningkatnya populasi penduduk terutama pada daerah transmigrasi sedikit banyaknya akan membebani wilayah DAS Batanghari itu sendiri.

Sebagian areal DAS Batanghari berada di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yaitu mencakup 234.000 hektar, dan di zona tengah terdapat Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) seluas 60.500 hektar.

Thursday, January 2, 2014

Kesultanan Jambi

Kesultanan Jambi adalah Kerajaan Islam yang berkedudukan di Provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan Kerajaan - Kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota dii utara. Di selatan kerajaan ini berbatasan dengan Kesultanan Palembang (kemudian Keresidenan Palembang). Kesultanan Jambi juga mengendalikan Lembah Kerinci, meskipun pada masa akhir kekuasaannya, kekuasaan nominal tidak lagi diperdulikan. Ibukota Kesultanan Jambi terletak di Kota Jambi, yang terletak di pinggir sungai Batanghari.
Sultan Thaha Syaifuddin


Geografi
Jambi berkembang di wilayah cekungan Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Sungai ini, dan anak-anak sungainya seperti : Tembesi, Tabir dan Merangin, merupakan tulang punggung wilayah tersebut. Sungai Tungkal yang berbatasan dengan Indragiri memiliki cekungan tangkapan air sendiri. Sungai - sungai itu merupakan andalan transportasi utama Jambi.

Kependudukan
Penduduk Jambi relatif jarang, pada 1852 jumlah penduduk diperkirakan hanya sebanyak 60.000 jiwa dan Jambi Timur nyaris tidak berpenghuni. Etnis Melayu berdiam di pinggiran Sungai Batanghari dan Tembesi. Orang Kubu menghuni hutan - hutan, sedangkan Orang-orang Batin mendiami wilayah Jambi Hulu. Pendatang dari Minangkabau disebut sebagai orang Penghulu, yang menyatakan tunduk pada orang - orang Batin.

Sejarah
Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan Vasal Majapahit, dan pengaruh jawa masih terus mewarnai Kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan abad ke-18.
Berdirinya Kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu. pada tahun 1616 Jambi merupakan Pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh, dan pada tahun 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang. Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang, Tahun 1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai Pelabuhan Lada utama, setelah perang dengan Johor dan konflik internal.
Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir, menyerah kepada Belanda, Jambi digabungkan dengan Keresidenan Palembang. Tahun 1906 Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pemerintahan
Kesultanan Jambi dipimpin oleh Raja yang bergelar SULTAN. Pada tahun 1877-1879 kediaman Sultan Jambi berada di Dusun Tengah (sekarang bernama desa Rambutan Masam, Kecamatana Muara Tembesi), Kabupaten Batanghari. Raja ini dipilih dari perwakilan empat bangsawan (Suku) yaitu : Suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga memilih Pangeran Ratu, yang mengendalikan jalannya roda pemerintahan sehari-hari. Dalam menjalankan pemerintahan Pangeran Ratu dibantu oleh para menteri dan dewan penasehat yang anggotanya berasal dari keluarga bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan mewakili negara bagi dunia luar.

Senarai (Silsilah) Sultan Jambi
Berikut ini adalah daftar Sultan Jambi
1790-1812   Mas'ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga.  
1812-1833   Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga.
1833-1841   Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat.
1841-1855   Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud.
1855-1858   Thaha Syaifuddin bin Muhammad (1st time).
1858-1881   Ahmad Nazaruddin bin Mahmud.
1881-1885   Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman.
1885-1899   Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad.
1900-1904   Thaha Syaifuddin bin Muhammad (2nd time).
1904-           Dihancurkan Belanda.
2012-         Abdurrachman Thaha Syaifuddin (Dinobatkan pada tanggal 18       Maret 2012)


Monday, December 30, 2013

Nilai Budaya Jambi

Nilai Budaya

Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan "Jambe" yang berarti "Pinang". Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal - usul Provinsi Jambi.
Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain : Melayu Jambi, Batin, Kerinci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu) dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan penduduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai batanghari.

Suku Kubu atau Suku Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku - suku yang lain. Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit - prajurit Minangkabau yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ada cerita lain yang menyatakan bahwa Suku Anak Dalam ini merupakan keturunan dari percampuran Suku Wedda dengan Suku Negrito, yang kemudian disebut sebagai Suku Weddoid. Suku Anak Dalam dibedakan atas Suku yang Jinak dan Liar. Sebutan "Jinak" diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tempat tinggal yang tetap dan telah mengenal tatacara pertanian. Sedangkan yang disebut "Liar" adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan - hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.

Suku - suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa Larik (Kumpulan rumah panjang beserta pekarangannya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (RIO) dibantu oleh Mangku, Canang dan Tua - tua Tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup masyarakat desa.

Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah - istilah atau gelar - gelar tertentu untuk menyebut lapisan - lapisan sosial dalama masyarakat.  Mereka hanya mengenal sebutan - sebutan yang "Kabur" untuk menunjukan status seseorang, seperti : orang pintar, orang kaya, orang kampung, dsb.

Pakaian pada awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Pakain sehari - hari yang dikenakan kaum wanita berupa Baju Kurung dan Selendang yang dililitkan dikepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan Celana Setengah Ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari - hari, pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.

Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas Perentak, Rangguk, Sekapur Sirih, Selampit Delapan, Serentak Satang.

Upacara Adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik Sirih Bergurau Pinang, Duduk Bertuik, Tegak Betanyo, Ikat Buatan Janji Semayo, Ulur Antar Serah Terimo Pusako dan Kematian.

Filsafat Hidup masyarakat setempat : "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo"


Thursday, November 28, 2013

Kabupaten Merangin

Kabupaten Merangin adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten Merangin terbentuk dari pemekaran Kabupaten Sarolangun Bangko menjadi wilayah Kabupaten Merangin dan Kabupaten Sarolangun. Terbentuk Kabupaten Merangin berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 54 Tahun 1999 tanggal 04 Oktober 1999 tentang pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dalam hal ini Kabupaten Merangin sebagai Kabupaten induk tetap dengan ibukota pemerintahan di Kota Bangko, yang dulunya juga merupakan ibukota Kabupaten Sarolangun Bangko sebelum dimekarkan.

Lambang Kabupaten Merangin

Lambang Kabupaten Merangin



Seloko Kabupaten Merangin berbunyi " TALI UNDANG TAMBANG TELITI "  mengandung arti :
1. Mencerminkan bahwa daerah Kabupaten Merangin merupakan daerah pertemuan yang berbentuk peraturan yang kuat antara dua induk suku yang besar yaitu : Suku Batin dan Suku Penghulu.
2. Mencerminkan Persatuan, Kesatuan antara kebiasaan dan adat istiadat yang dipakai oleh induk suku batin dan induk suku penghulu yaitu : Undang berasal dari Suku Penghulu dan Teliti berasal dari Suku Batin. Keduanya dipakai dan merupakan intisari pada adat istiadat dan merupakan adat istiadat rakyat Kabupaten Merangin yang tak lapuk di hujan dan tak lekang di panas.
3. Mencerminkan bahwa Kabupaten Merangin bidang Pemerintah maupun bidan Kemasyarakatan berdasarkan dengan jiwa musyawarah dan mufakat serta didasarkan ketentuan-ketentuan hukum baik tertulis maupun tidak tertulis.


Kondisi Geografis
Kabupaten Merangin merupakan salah satu Kabupaten dari sebelas (11) Kabupaten /  Kota yang berada di Provinsi Jambi. Wilayah Kabupaten Merangin berada di bagian barat dan secara geografis terletak antara 101, 32, 11 - 102, 50, 00 bujur timur dan 1, 28, 23 - 1, 52, 00 bujur selatan. Kabupaten Merangin memiliki luas wilayah  7.679 km2 atau 745,130 ha yang terdiri dari 4.607 km2 berupa dataran rendah dan 3.027 km2 berupa dataran tinggi, dengan ketinggian berkisar 46 - 1.206 m dari permukaan air laut dengan batas wilayah meliputi : 
- Sebelah timur    : Kabupaten Sarolangun.
- Sebelah barat    : Kabupaten Kerinci.
- Sebelah utara    : Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo.
- Sebelah selatan : Kabupaten Rejang Lebong (Provinsi bengkulu).




Kondisi Topografi
Kondisi topografis wilayah Kabupaten Merangin secara umum dibagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu : dataran rendah, dataran sedang, dan dataran tinggi. ketinggian berkisar antara 10 - 1.206 m dpl dengan bentang alam rata rata bergelombang. Pada dataran rendah terletak pada ketinggian 0 - 100 m dpl dengan luasan 42,77 % luas kabupaten. Wilayah dataran sedang yang terletak antara 100 - 500 m dpl seluas 32,52 % luas kabupaten. Sedangkan dataran tinggi  yang terletak lebih dari 500 m dpl seluas 14,5 % dari luas kabupaten meliputi Kecamatan Jangkat, Muara Siau, Lembah Masurai, Sungai Manau dan sebagian Tabir Ulu. Dataran rendah meliputi Kecamatan Bangko, Pamenang, Tabir, Tabir Selatan dan sebagian Tabir Ulu.

Wilayah Kabupaten Merangin pada saat ini terdiri atas 24 Kecamatan, 203 Desa dan 10 Kelurahan :
1.  Kecamatan Jangkat terdiri dari 12 Desa.
2.  Kecamatan Sungai Tenang terdiri dari 12 Desa.
3.  Kecamatan Muara Siau terdiri dari 17 Desa.
4.  Kecamatan Lembah Masurai terdiri dari 15 Desa.
5.  Kecamatan Tiang Pungpung terdiri dari 6 Desa.
6.  Kecamatan Pamenang terdiri dari 13 Desa dan 1 Kelurahan.
7.  Kecamatan Pamenang Barat terdiri dari  8 Desa.
8.  Kecamatan Renah Pamenang terdiri dari 4 Desa.
9.  Kecamatan Pamenang Selatan terdiri dari 4 Desa.
10. Kecamatan Bangko terdiri dari 4 Desa dan 4 kelurahan.
11. Kecamatan Bangko Barat terdiri dari 6 Desa.
12. Kecamatan Nalo Tantan terdiri dari 7 Desa.
13. Kecamatan Batang Mesumai terdiri dari 10 Desa.
14. Kecamatan Sungai Manau terdiri dari 10 Desa.
15. Kecamatan Renah Pembarap terdiri dari 12 Desa.
16. Kecamatan Pangkalan Jambu terdiri dari 8 Desa.
17. Kecamatan Tabir terdiri dari 6 Desa dan 5 Kelurahan.
18. Kecamatan Tabir Ulu terdiri dari  6 Desa.
19. Kecamatan Tabir Selatan terdiri dari  7 Desa.
20. Kecamatan Tabir Ilir terdiri dari 7 Desa.
21. Kecamatan Tabir Timur terdiri dari 4 Desa.
22. Kecamatan Tabir Lintas terdiri dari 5 Desa.
23. Kecamatan Margo Tabir terdiri dari 6 Desa.
24. Kecamatan Tabir Barat terdiri dari 14 Desa.

Tempat Kunjungan Wisata 

1. Grow
Grow adalah sumber air panas yang mengeluarkan asap belerang yang terdapat di 4 lokasi di desa Renah Kemumu Kecamatan Jangkat dengan jarak dari Kota Bangko kurang lebih 146 km. Semburan salah satu sumber air panas dapat mencapai 15 meter, jika dikendalikan /  diasuh oleh seorang pawang.  Air ini dapat dijadikan obat penyakit kulit oleh sebagian masyarakat. Kawasan wisata alam air panas / grow ini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat melintasi hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) antara kawasan Desa Tanjung Kasri dan Desa Renah Kemumu.
2. Teluk Wang sakti
Terletak di kawasan Desa Biuku Tanjung Kecamtan Bangko Barat yang berjarak dari Kota Bangko kurang lebih 14 km tepatnya di kawasan Sungai Merangin. Kawasan ini merupakan tempat kegiatan arung jeram yang memiliki tingkat kesulitan yang berskala nasional bahkan internasional. Selain itu kawasan Teluk Wang Sakti memiliki sejarah atau legenda yang sangat mengagumkan, konon dahulu kala kawasan ini bernama Tepian Indak Berubah Bukit Sekelam Kabut Rantau Bernamo Sibujang Bingung yang merupakan daerah - daerah kekuasaan Nenek Syeh Biti Mengerao dari Lonang (MinangKabau).  Sejarah dan legenda Teluk Wang Sakti meninggalkan bukti sejarah antara lain : Batu Tenun, Batu Kisaran, dan beberapa benda pusaka yang terpelihara baik oleh ahli waris.
3. Goa Sengayau
Terletak di desa Sungai Pinang Kecamatan Sungai Manau yang berjarak dari Kota Bangko kurang lebih 50 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat serta diteruskan dengan berjalan kaki sejauh 800 m. Salah satu keunikan dari Goa Sengayau ini adalah di dalamnya terdapat meja dan kursi yang terbuat dari batu. Berdasarkan penelitian Arkeologi gua ini pernah di huni oleh manusia purba pada abad ke 10 masehi. Disamping itu dalam goa tersebut terdapat sungai yang mengalir serta memiliki potensi berupa sarang burung walet sebagai mata pencarian masyarakat setempat.  Goa Sengayau ini terbentuk dari susunan batu-batuan kaviler yang terdiri dari stalaknit dengan dihiasi oleh ornamen alam dan sebagian terbentuk dari rembesan, kucuran dan tetesan air dari dinding dan bagian atas goa yang sangat mengagumkan, selain itu apabila dipukul dinding goa akan menimbulkan suara suara unik.

Thursday, November 14, 2013

Keris Siginjai Pusaka Negeri Jambi

Pada saat Pemerintahan Kerajaan Melayu Jambi dibawah kepemimpinan kakaknya RangKayo Hitam yang bernama RangKayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada Raja Kerajaan Mataram. Memang pada saat itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan Kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun.

Mendengar adanya perlawanan di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upetinya kepada Kerajaan Mataram dan tentang adanya seseorang yang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggagalkan upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Melayu Jambi yang disebut serangan" Pamalayu " dan segera memerintahkan  seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam.

Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju ke Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah Kerajaan Mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang Empu yang sedang  membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada si Empu untuk siapa keris tersebut, Empu itupun menjelaskan bahwa keris itu untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu Empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali dengan huruf P dan akan sempurna bila telah dimandikan ditujuh muara. Akhirnya Rangkayo Hitam merebut keris tersebut dari tangan sang Empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itu pun akhirnya tewas ditangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris itu, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu Jambi untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti Kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara hingga keris tersebut menjadi sakti. Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan " Ginjai " yang berarti Tusuk Konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama " Keris Siginjai ".

Gbr. Keris Siginjai
Keris Siginjai ini terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi, dan nikel. Bilah/Wilahan Keris Siginjai panjang lebih kurang 39 cm dan berlekuk (luk) 5. Permukaan Keris Siginjai pada mulanya kemungkinan ditutupi lapisan emas murni karena pada saat ini masih terlihat adanya bekas lapisan emas yang terlepas. Lapisan emas itu berfungsi untuk memperindah keris dan yang lebih utama untuk menutupi pamor pada keris yang bermotif flora. Pamor keris ini semakin ke ujung semakin kabur. Pada lekuk pertama hingga keempat pamor itu tampak jelas, namun pada lekuk kelima sampai ke mata keris, pamornya sudah tidak jelas lagi. Keris Siginjai memiliki dua buah ganja, yang salah satunya melengkung ke arah mata keris. Sedangkan pada sisi terlebar pangkal bilah keris terdapat bentukan yang menjorok keluar dan memiliki 6 buah tonjolan yang ujungnya runcing, mirip dengan senjata penjepit pada binatang kalajengking. Tonjolan yang terbesar disebut belalai gajah atau keluk kacang.

Hulu (gagang) Keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning yang bagian kepalanya dibuat menjarak kearah permukaan badan keris. sedangkan pada bagian yang dekat dengan wilahan terdapat mendak yang berbentuk kelopak bunga teratai. Diatas mendak terdapat 16 garis lengkung yang disetiap lengkungannya dipasang sebuah batu mulia, yang terdiri dari 8 buah intan berbentuk segi tiga dan 8 buah berlian berbentuk lonjong (oval). Dibawah setiap intan dan berlian terdapat bidang lengkung yang semakin menyempit kearah bilah keris. Pada permukaan bidang lengkung tersebut dilapisi dengan emas murni dan  diukir hiasan bunga-bunga kecil dan diatHulu (gagang) Keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning yang bagian kepalanya dibuat menjarak kearah permukaan badan keris. sedangkan pada bagian yang dekat dengan wilahan terdapat mendak yang berbentuk kelopak bunga teratai. Diatas mendak terdapat 16 garis lengkung yang disetiap lengkungannya dipasang sebuah batu mulia, yang terdiri dari 8 buah intan berbentuk segi tiga dan 8 buah berlian berbentuk lonjong (oval). Dibawah setiap intan dan berlian terdapat bidang lengkung yang semakin menyempit kearah bilah keris. as garis lengkung itu terdapat jalinan berbentuk benang-benang email warna hijau dan kuning.
Sarung keris / Wrangka Keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning sedangkan pendok keris terbuat dari lempengan emas murni yang seluruh permukaannya dihiasi dengan ukiran bermotif flora. Pada wrangka Keris Siginjai ini juga terdapat gayaman berbentuk perahu agak kecil tetapi tebal. Didekat gambar perahu terdapat lengkungan yang berbentuk sedikit bundar.
Keris Siginjai merupakan benda pusaka yang dimiliki secara turun-temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama lebih dari 400 tahun keris ini tidak hanya sekedar sebagai lambang mahkota Kesultanan Jambi, tetapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat jambi dan bahkan saat ini menjadi lambang Provinsi Jambi. Sultan terakhir yang memegang benda Kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke-20.

Gbr. Keris & Sarung Keris Siginjai

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Keris Siginjai diambil oleh belanda dan bersama dengan sebuah pusaka Kesultanan Jambi lainnya, yaitu Keris Singa Marjaya dibawa ke Batavia. Setelah Indonesia merdeka kedua keris tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Jakarta, bersama dengan keris-keris pusaka dari berbagai daerah lain di Indonesia untuk dirawat, dipelihara dan dilestarikan agar generasi penerus dapat mengetahui bahwa Nenek Moyangnya mampu membuat sebuah mahakarya yang indah walaupun dengan mempergunakan peralatan tradisional yang seadanya.

Tuesday, October 29, 2013

Kota Jambi

Kota Jambi adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Jambi, Indonesia. Kota Jambi dibelah oleh sungai yang bernama Batanghari, kedua kawasan tersebut dapat dihubungi oleh jembatan yang bernama jembatan Aur Duri I dan jembatan Aur Duri II.

Lambang Kota Jambi berbentuk Perisai dengan bagian yang meruncing dibawah, dikelilingi 3 (tiga) garis dengan warna bagian luar putih, tengah berwarna hijau dan bagian luar berwarna putih. Garis hijau yang mengelilingi lambang pada bagian atas lebih lebar dan didalamnya tercantum tulisan "KOTA JAMBI" yang melambangkan nama daerah dan diapit oleh 2 buah bintang bersudut 5 berwarna putih, yang melambangkan kondisi kehidupan sosial masyarakat Jambi yang terdiri dari berbagai suku dan agama memiliki keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Warna dasar lambang berwarna biru langit.



Arti Lambang :
- Senapan/Lelo, Gong & Angsa :
Setelah orang Kayo Hitam menikah dengan putri Temenggung Merah Mato yang bernama Putri Mayang Mangurai, maka oleh Temenggung Merah Mato anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako kemudian disuruh menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru.
Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan bahwa tempat yang akan dipilih ialah dimana sepasang Angsa naik ketebing dan mupur di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua Angsa naik kedarat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut "Tanah Pilih", dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.
Sewaktu Orang Kayo Hitam menebas untuk menerangi tempat tersebut ditemukannya sebuah Gong dan Senapan/Lelo yang diberi nama "SITIMANG" dan "SIDJIMAT", yang kemudian kedua benda tersebut menjadi barang Pusaka Kerajaan Jambi yang disimpan di Museum Negeri Jambi.

- Keris :
Keris tersebut bernama "KERIS SIGINJAI" dan merupakan lambang kebesaran serta kepahlawanan Raja dan Sultan Jambi dahulu, karena barang siapa yang memiliki keris tersebut dialah yang diakui sebagai penguasa atau berkuasa untuk memerintah Kerajaan Jambi.

- Garis Biru 9 Buah :
Garis-garis ini melambangkan luasnya wilayah Kerajaan Jambi dahulu yang meliputi 9 buah lurah dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama :
1. Batang Asai
2. Batang Merangin
3. Batang Masurai
4. Batang Tabir
5. Batang Senamat
6. Batang Jujuhan
7. Batang Bungo
8. Batang Tebo
9. Batang Tembesi
Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kerajaan Jambi. 

- Garis Hijau 6 Buah :
Garis ini melambangkan bahwa wilayah Kota Jambi dahulunya secara administratif terdiri dari 6 kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Pasar Jambi
2. Kecamatan Jambi Timur
3. Kecamatan Jambi Selatan
4. Kecamatan Telanaipura
5. Kecamatan Danau Teluk
6. Kecamatan Pelayangan
Kecamatan kecamatan ini dibentuk dengan SK Gubernur Jambi Tanggal 5 Juni 1965 NO. 9/A-I/1965.
Pada tahun 2002 wilayah Kota Jambi dimekarkan menjadi 8 kecamatan yang terdiri dari 62 kelurahan berdasarkan Perda No. 35 tahun 2002.

- Pohon Pinang :
Pohon Pinang melambangkan asalnya isitlah atau perkataan "DJAMBE" dahulu yang kemudiam dipakai sebagai nama untuk menyebut daerah ini (Keresidenan Jambi, Propinsi Jambi dan Kota Jambi)
Istilah "JAMBI" ini berasal dari perkataan "DJAMBE" (bahasa Jawa). Dan "DJAMBE" ini nama sejenis Pohon Pinang. Istilah "DJAMBE" lama kelamaan berubah menjadi "DJAMBI". Dan terakhir karena ejaan yang disempurnakan maka istilah "DJAMBE" berubah pula menjadi JAMBI.

- Motto “ Tanah Pilih Pesako Betuah”
Kota Jambi mempunyai motto "TANAH PILIH PESAKO BETUAH" yang tertera pada sehelai Pita Emas dibawah Lambang Kota Jambi, yang mengandung pengertian secara harfiah :
a. Tanah : permukaan bumi paling atas atau kondisi area suatu tempat.
b. Pilih : pilihan yang dipilih dari yang lain dengan teliti
c. Pesako : warisan
c. Betuah : memiliki kelebihan luar biasa (sakti) yang tidak dimiliki oleh yang lain

TANAH PILIH PESAKO BETUAH pada hakekatnya mengandung pengertian sebagai berikut :
a. Melambangkan suatu pernyataan bahwa Kota Jambi adalah berasal dari tanah yang dipilih oleh Raja Jambi untuk dijadikan Pusat Pemerintahan Kerajaan Melayu Jambi yang diwariskan kepada kita yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang sangat berharga untuk kita jaga dan pelihara untuk kemudian kita wariskan kepada anak cucu kita kelak.
b. Menggambarkan kehidupan masyarakat Kota Jambi yang rukun, damai, aman, makmur dan sejahtera lahir-batin karena mengutamakan kegotongroyongan.

TANAH PILIH PESAKO BETUAH secara filosofis mengandung pengertian sebagai berikut :
"Bahwa Kota Jambi sebagai Pusat Pemerintahan Kota sekaligus sebagai Pusat Sosial Ekonomi serta Kebudayaan juga mencerminkan jiwa masyarakatnya sebagai duta kesatuan baik individu, keluarga dan kelompok maupun secara institusional yang lebih luas, berpegang teguh dan terikat pada nilai-nilai adat istiadat dan hukum adat serta peraturan perundang-undangan yang berlaku."

Geografi & Topografi Kota Jambi
Dengan populasi penduduk sebesar 540.258 jiwa (±17% dari seluruh populasi penduduk Provinsi Jambi), mayoritas penduduk merupakan suku Melayu Jambi, sedangkan suku (suku bangsa) lain yang hidup berdampingan dengan harmonis di Kota Jambi, antara lain : Aceh, Banjar, Batak, Bugis, Flores, Habib (keturunan Arab), keturunan India, Jawa, Padang, Palembang, Papua, Sunda, dan Tiong-hoa (Hokhian, Techiu, Khek, Hainan).

Kota Jambi dengan luas wilayah ± 205.38 km² (berdasarkan UU No. 6 tahun 1986), terletak pada kordinat :
01° 30’ 2.98"
-
01° 7’ 1.07"
Lintang Selatan
103° 40’ 1.67"
-
103° 40 0.23"
Bujur Timur

Koordinat tersebut menunjukkan keberadaan Kota Jambi yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera. Secara geomorfologis Kota Jambi terletak di bagian Barat cekungan Sumatera bagian selatan yang disebut Sub-Cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatera Timur.

Ditilik dari topografinya, Kota Jambi relatif datar dengan ketinggian 0-60 m diatas permukaan laut. Bagian bergelombang terdapat di utara dan selatan kota, sedangkan daerah rawa terdapat di sekitar aliran Sungai Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang keseluruhan lebih kurang 1.700 km, dari Danau Atas - Danau Bawah (Sumatera Barat) menuju Selat Berhala (11 km yang berada di wilayah Kota Jambi) dengan kelebaran lebih kurang 500 m. Sungai Batanghari membelah Kota Jambi menjadi dua bagian disisi utara dan selatannya. Secara administratif berbatasan langsung dengan Kab. Muaro Jambi, Propinsi Jambi.

Sejarah Kota Jambi
Jambi sebagai daerah pemukiman atau pemusatan penduduk bahkan sebagai pusat kedudukan pemerintahan telah berjalan dari masa ke masa. Sejarah Dinasti Sung menguraikan bahwa Maharaja San-fo-tsi (Swarnabhumi) bersemayam di Chan-pi. Utusan dari Chan-pi datang untuk pertama kalinya di istana Kaisar China pada tahun 853M. Utusan ke dua kalinya datang pula pada tahun 871M. Informasi ini menorehkan bahwa Chan-pi (yang diidentifikasikan Prof. Selamat Mulyana sebagai Jambi) sudah muncul diberita China pada tahun - tahun tersebut. Dengan demikian Chan-pi atau Jambi sudah ada dan dikenal pada abad ke 9M. Berita China Ling Pio Lui (890-905M) juga menyebut Chan-pi (Jambi) mengirim misi dagang ke China.

Silsilah Raja-raja Jambi tulisan Ngebih Suto Dilago Priayi Rajo Sari pembesar dari kerajaan Jambi yang berbangsa 12, menulis Putri Selaro Pinang Masak anak rajo turun dari Pagaruyung di rajakan di Jambi. Dari sebutan Pinang dalam bahasa Jawa (Sunda) dilapas sebagai Jambe sehingga ditenggarai banyak orang sebagai asal kata Jambi. Jadi ada perubahan bunyi dan huruf dari Jambe ke Jambi. Identifikasi ini menginformasikan kata Jambe-Jambi terbuhul pada abad ke 15 yaitu di masa Puteri Selaro Pinang Masak memerintah dikerajaan Jambi Tahun 1460-1480.

Raden Syarif (yang kemudian diungkapkan kembali oleh Datuk Sulaiman Hasan) dari "Riwayat Tanjung Jabung Negeri Lamo" mencatat bahwa Puteri Selaro Pinang Masak mengilir dari Mangun Jayo ke Tanjung Jabung di pandu oleh sepasang itik besar (Angso Duo) yang mupur ditanah pilih pada tanggal 28 Mei 1401. Legenda Tanah Pilih ini berbeda versi dengan Ngebi Suto Dilago. Silsilah Raja-raja Jambi menyebut Orang Kayo Hitam (salah seorang putera dari pasangan puteri Selaro Pinang Masak dengan Ahmad Barus II/Paduko Berhalo) yang mengilir mengikuti sepasang itik besak (Angso Duo) atas saran petuah mertuanya Temenggung Merah Mato Raja Air Hitam Pauh.

Profesor Moh. Yamin mengidentifikasi Jambi berada disekitar Kantor Gubernur Jambi di Telanaipura sekarang. Indikasi ini atas dasar mulai dari kawasan Mesjid Agung Al-falah sampai ke Pematang pinggiran Danau Sipin terdapat deretan struktur batuan bata candi yang diantaranya menunjukan sebagai komplek percandian yang cukup besar dikawasan kampung Legok.

Tidak tertutup kemungkinan penemuan tanah pilih oleh sepasang Angso yang mupur tersebut adalah pembukaan kembali Kota Chan-pi yang ditinggal karena kerajaan SwarnaBhumi (San-fo-tsi) diserang oleh Singosari dalam peristiwa Pamalayu tahun 1275M dan pindah ke pedalaman Batang Hari yang kemudian dikenal sebagai Darmasraya (Sumatera Barat). Dua Puteri Melayu/Darmasraya yaitu Dara Petak dan Dara Jingga diboyong oleh Mahisa Anabrang ke Singosari pada tahun 1292. Ternyata di saat itu Singosari telah runtuh oleh pemberontak dan kemudian mendapat serbuan tentara Khu Bilaikhan. Singosari berganti menjadi Majapahit dengan Rajanya Raden Wijaya. Salah seorang keturunan Puteri melayu itu yaitu dari pasangan Dara Jingga yaitu Adityawarman kembali ke Darmasraya kemudian mendirikan dan menjadi Raja di Pagaruyung (1347-1375M). Anaknya yang bernama Ananggawarman meneruskan teratah kerajaan Pagaruyung. Keturunan Ananggawarman salah satunya adalah Puteri Selaro Pinang Masak yang dirajakan di Jambi.
Setelah Orang Kayo Hitam dirajakan pusat kerajaan dipindahkan dari Ujung Jabung ke Tanah Pilih Jambi disekitar awal abad ke 16. Jadilah Jambi kembali sebagai tempat kedudukan Pemerintahan.

Pangeran Depati Anom yang naik tahta dikerajaan Jambi bergelar Sultan Agung Abdul Jalil (1643-1665M) pernah memberikan surat izin untuk mendirikan pasar tempat berjual beli di Muaro Sungai Asam pada seorang Belanda bernama Beschseven. Izin Sultan tersebut tertanggal 24 Juni 1657 dimana lokasi yang diizinkan itu kemudian berpindah dari Muaro Sungai Asam ke sekitar Muaro Sungai di bawah area WTC Batang Hari sekarang.

Jambi sebagai pusat pemukiman dan tempat kedudukan raja terus berlangsung. Istana yang dibangun di Bukit Tanah Pilih disebut sebagai istana tanah pilih yang terakhir sebagai tempat Sultan Thaha Saifuddin dilahirkan dan dilantik sebagai sultan tahun 1855. Istana Tanah Pilih ini kemudian di bumi hanguskan sendiri oleh Sultan Thaha tahun 1858 menyusul serangan balik tentara Belanda karena Sultan dan Panglimanya Raden Mattaher menyerang dan berhasil menenggelamkan 1 kapal perang Belanda Van Hauten di perairan Muaro Sungai Kumpeh.

Dari puing - puing Istana Tanah Pilih oleh Belanda dikuasai dan dijadikan tempat markas serdadu Belanda. Praktis setelah Sultan Thaha Saifuddin gugur tangga 27 April 1904 Belanda secara utuh menempatkan wilayah kerajaan Jambi sebagai bagian wilayah kekuasaan Kolonial Hindia Belanda. Jambi kemudian berstatus Under Afdeling di bawah Afdeling Palembang. Pada Tahun 1906 Under Afdeling Jambi ditingkatkan sebagai Afdeling Jambi kemudian di tahun 1908 Afdeling Jambi menjadi Kerisidenan Jambi dengan residennya O.L. Helfrich berkedudukan di Jambi. Sampai masa Kemerdekaan pejabat Residen dari Keresidenan Jambi berkedudukan di Jambi. Setelah Republik Indonesia di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, berdasarkan berita RI Tahun II No. 07 hal 18 tercatat untuk sementara waktu daerah Negara Indonesia di bagi dalam 8 Provinsi yang masing - masing dikepalai oleh seorang Gubernur diantaranya Provinsi Sumatera. Provinsi Sumatera ini kemudian pada tahun 1946 dibagi lagi dalam 3 sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sub Provinsi Sumatera Tengah dan Sub Provinsi Sumatera Selatan. Keresidenan Jambi dengan hasil voting dimasikan ke dalam wilayah Sub Provinsi Sumatera Tengah.

Residen Jambi yang pertama di masa Republik adalah Dr. Asyagap sebagaimana tercantum dalam pengumuman Pemerintah tentang pengangkatan residen, Walikota di Sumatera dengan berdasarkan pada surat ketetapan Gubernur Sumatera tertanggal 03 Oktober 1945 No. 1-X.

Pada tahun 1945 tersebut sesuai Undang-undang no.1 tahun 1945 wilayah Indonesia terdiri dari Provinsi, Karesidenan, Kewedanaan dan Kota. Tempat kedudukan Residen yang telah memenuhi syarat, disebut Kota tanpa terbentuk struktur Pemerintahan Kota. Dengan demikian Kota Jambi sebagai tempat kedudukan Residen Keresidenan Jambi belum berstatus dan memiliki pemerintahan sendiri. Kota Jambi baru diakui berbentuk pemerintahan ditetapkan dengan ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 tahun 1946 tertanggal 17 Mei 1946 dengan sebutan Kota Besar dan Walikota pertamanya adalah Makalam
Mengacu pada Undang-undang No. 10 tahun 1948 Kota Besar menjadi Kota Praja. Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 18 tahun 1965 menjadi Kota Madya dan berdasarkan Undang-undang No. 22 tahun 1999 Kota Madya berubah menjadi Pemerintah Kota Jambi sampai sekarang.

Dengan Undang-undang No. 19 Tahun 1958 Keresidenan Jambi sebagai bagian dari Provinsi Sumatera Tengah dikukuhkan sebagai Provinsi Jambi yang berkedudukan di Jambi. Kota Jambi sendiri pada saat berdirinya Provinsi Jambi telah berstatus Kota Praja dengan Walikotanya R. Soedarsono.

Tanggal penetapan Kota Jambi sebagai Kota Praja yang mempunyai Pemerintahan sendiri sebagai Pemerintah Kota dengan ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 Tahun 1946 tertanggal 17 Mei 1946 dipilih dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Jambi No. 16 Tahun 1985 dan disahkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi No. 156 Tahun 1986, tanggal 17 Mei 1946 itu sebagai Hari Jadi Pemerintah Kota Jambi. (Drs.H.Junaidi.T.Noor.MM).
Setelah era reformasi, terjadi perubahan struktur Pemerintah Kota Jambi, yang berdasarkan UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU no. 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah), Walikota sebagai Kepala Daerah, didampingi oleh Wakil Walikota.


Saturday, October 12, 2013

Kekayaan Provinsi Jambi

Jambi adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0,45° Lintang Utara, 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10°-104,55° Bujur Timur. Di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, sebelah Timur dengan Selat Berhala, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu. Kondisi geografis yang cukup strategis di antara kota-kota lain di provinsi sekitarnya membuat peran provinsi ini cukup penting terlebih lagi dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah. Kebutuhan industri dan masyarakat di kota-kota sekelilingnya didukung suplai bahan baku dan bahan kebutuhan dari provinsi ini.

Luas Provinsi Jambi 53.435 km2 dengan jumlah penduduk Provinsi Jambi pada tahun 2010 berjumlah 3.088.618 jiwa (Data BPS hasil sensus 2010) . Jumlah penduduk Provinsi Jambi pada tahun 2006 berjumlah 2.683.289 jiwa (Data SUPAS Proyeksi dari BPS Provinsi Jambi. Jumlah Penduduk Provinsi Jambi pada tahun 2005 sebesar 2.657.536 (data SUSENAS) atau dengan tingkat kepadatan 50,22 jiwa/km2. Tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 0,96% dengan PDRB per kapita Rp9.523.752,00 (Angka sementara dari BPS Provinsi jambi. Untuk tahun 2005, PDRB per kapita sebesar Rp8.462.353). Sedangkan sebanyak 46,88% dari jumlah tenaga kerja Provinsi Jambi bekerja pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan; 21,58% pada sektor perdagangan dan 12,58% pada sektor jasa. Dengan kondisi ketenagakerjaan yang sebagian besar masyarakat di provinsi ini sangat tergantung pada hasil pertanian,perkebunan sehingga menjadikan upaya pemerintah daerah maupun pusat untuk mensejahterakan masyarakat adalah melalui pengembangan sektor pertanian.

Masyarakat Jambi merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari masyarakat asli Jambi, yakni Suku Melayu yang menjadi mayoritas di Provinsi Jambi. Selain itu juga ada Suku Kerinci di daerah Kerinci dan sekitarnya yang berbahasa dan berbudaya mirip Minangkabau. Secara sejarah dan budaya merupakan bagian dari varian Rumpun Minangkabau. Juga ada suku-suku asli pedalaman yang masih primitif yakni Suku Kubu dan Suku Anak Dalam. Adat dan budaya mereka dekat dengan budaya Minangkabau. Selain itu juga ada pendatang yang berasal dari Minang Kabau, Batak, Jawa, Sunda, Cina, India dan lain-lain. Sebagian besar masyarakat Jambi memeluk agama Islam, yaitu sebesar 90%, sedangkan sisanya merupakan pemeluk agama Kristen, Budha, Hindu dan Konghuchu.

Provinsi Jambi terdiri dari 9 (sembilan) Kabupaten dan 2 (Dua) Kota Madya, yaitu :
1.   Kabupaten Bungoibukotanya Muara Bungo
2.   Kabupaten Tebo ibukotanya Muaro Tebo
3.   Kabupaten Merangin ibukotanya Bangko
4.   Kabupaten Sarolangun ibukotanya Sarolangun
5.   Kabupaten Kerinci ibukotanya Siulak
6.   Kabupaten Batanghari ibukotanya Muara Bulian
7.   Kabupaten Muaro Jambi ibukotanya Sengeti
8.   Kabupaten Tanjung Jabung Barat ibukotanya Kuala Tungkal
9.   Kabupaten Tanjung Jabung Timur ibukotanya Muara Sabak
10. Kota Madya Jambi
11. Kota Madya Sungai Penuh

Tingkat kesejahteraan penduduk yang tercermin melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat sebesar 71,2 (data BPS tahun 2005). Sedangkan angka pengangguran Provinsi Jambi sebesar 92.772 atau setara dengan 7,8% penduduk Provinsi Jambi (data SAKERNAS bulan Februari).Provinsi Jambi termasuk dalam kawasan segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapore (IMS-GT). Jarak tempuh Jambi ke Singapura jalur laut melalui Batam dengan menggunakan kapal cepat (jet-foil) ± 5 jam.


Dengan kondisi suhu udara berkisar antara 23 °C sampai dengan 31 °C dan luas wilayah 53,435 km2 di antaranya sekitar 60% lahan merupakan kawasan perkebunan dan kehutanan yang menjadikan kawasan ini merupakan salah satu penghasil produk perkebunan dan kehutanan utama di wilayah Sumatera. Kelapa sawit dan Karet menjadi tanaman perkebunan primadona dengan luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 400.168 hektar serta karet mencapai 595.473 hektar. Sementara itu, nilai produksi kelapa sawit sebesari 898,24 ribu ton pertahun. Hasil perkebunan lainnya adalah karet, dengan jumlah produksi 240,146 ribu ton per tahun, kelapa dalam (virgin coconut) 119,34 ribu ton per tahun, casiavera 69,65 ribu ton per tahun, serta teh 5,6 ribu ton per tahun. Sementara produksi sektor pertanian yang dihasilkan oleh kawasan bagian barat Provinsi Jambi yaitu beras kerinci, kentang, kol/kubis, tomat dan kedele.

Potensi kekayaan alam di Provinsi Jambi adalah minyak bumi, gas bumi, batubara dan timah putih. Jumlah potensi minyak bumi Provinsi Jambi mencapai 1.270,96 juta m3 dan gas 3.572,44 milyar m3. Daerah cadangan minyak bumi utama di struktur Kenali Asam, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Batanghari dengan jumlah cadangan minyak 408,99 juta barrel. Sedangkan cadangan gas bumi utama di Struktur Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Muaro Jambi dengan jumlah cadangan 2.185,73 milyar m3.
Potensi Ekonomi:
1. Minyak Bumi: Cadangan minyak bumi Provinsi Jambi sebesar 1.270,96 juta m3. Cadangan minyak bumi antara lain terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, struktur Kenali Asam, Kecamatan Jambi Luar Kota dan Kabupaten Batanghari.
2. Gas Bumi: Cadangan gas bumi Provinsi Jambi sebesar 3.572,44 milyar m3. Cadangan tersebut sebagian besar terdapat di Struktur Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Muara Jambi dengan jumlah cadangan 2.185,73 milyar m3.
3. Batu Bara: Cadangan batubara Provinsi Jambi sebesar 18 juta ton, yang merupakan batubara kelas kalori sedang yang cocok digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik. Cadangan terbesar dijumpai di Kabupaten Muara Bungo.
4. Perkebunan: Komoditas perkebunan yang sangat dominan adalah Karet dan Kelapa Sawit. Hal ini didukung dengan program Pemerintah Derah Provinsi Jambi yaitu “Pengembangan Kelapa Sawit Sejuta Hektar” serta “Replanting Karet”. Selain itu, casiavera juga banyak dibudidayakan terutama di daerah Kerinci.