Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Thursday, January 2, 2014

Kesultanan Jambi

Kesultanan Jambi adalah Kerajaan Islam yang berkedudukan di Provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan Kerajaan - Kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota dii utara. Di selatan kerajaan ini berbatasan dengan Kesultanan Palembang (kemudian Keresidenan Palembang). Kesultanan Jambi juga mengendalikan Lembah Kerinci, meskipun pada masa akhir kekuasaannya, kekuasaan nominal tidak lagi diperdulikan. Ibukota Kesultanan Jambi terletak di Kota Jambi, yang terletak di pinggir sungai Batanghari.
Sultan Thaha Syaifuddin


Geografi
Jambi berkembang di wilayah cekungan Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Sungai ini, dan anak-anak sungainya seperti : Tembesi, Tabir dan Merangin, merupakan tulang punggung wilayah tersebut. Sungai Tungkal yang berbatasan dengan Indragiri memiliki cekungan tangkapan air sendiri. Sungai - sungai itu merupakan andalan transportasi utama Jambi.

Kependudukan
Penduduk Jambi relatif jarang, pada 1852 jumlah penduduk diperkirakan hanya sebanyak 60.000 jiwa dan Jambi Timur nyaris tidak berpenghuni. Etnis Melayu berdiam di pinggiran Sungai Batanghari dan Tembesi. Orang Kubu menghuni hutan - hutan, sedangkan Orang-orang Batin mendiami wilayah Jambi Hulu. Pendatang dari Minangkabau disebut sebagai orang Penghulu, yang menyatakan tunduk pada orang - orang Batin.

Sejarah
Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan Vasal Majapahit, dan pengaruh jawa masih terus mewarnai Kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan abad ke-18.
Berdirinya Kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu. pada tahun 1616 Jambi merupakan Pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh, dan pada tahun 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang. Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang, Tahun 1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai Pelabuhan Lada utama, setelah perang dengan Johor dan konflik internal.
Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir, menyerah kepada Belanda, Jambi digabungkan dengan Keresidenan Palembang. Tahun 1906 Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pemerintahan
Kesultanan Jambi dipimpin oleh Raja yang bergelar SULTAN. Pada tahun 1877-1879 kediaman Sultan Jambi berada di Dusun Tengah (sekarang bernama desa Rambutan Masam, Kecamatana Muara Tembesi), Kabupaten Batanghari. Raja ini dipilih dari perwakilan empat bangsawan (Suku) yaitu : Suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga memilih Pangeran Ratu, yang mengendalikan jalannya roda pemerintahan sehari-hari. Dalam menjalankan pemerintahan Pangeran Ratu dibantu oleh para menteri dan dewan penasehat yang anggotanya berasal dari keluarga bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan mewakili negara bagi dunia luar.

Senarai (Silsilah) Sultan Jambi
Berikut ini adalah daftar Sultan Jambi
1790-1812   Mas'ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga.  
1812-1833   Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga.
1833-1841   Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat.
1841-1855   Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud.
1855-1858   Thaha Syaifuddin bin Muhammad (1st time).
1858-1881   Ahmad Nazaruddin bin Mahmud.
1881-1885   Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman.
1885-1899   Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad.
1900-1904   Thaha Syaifuddin bin Muhammad (2nd time).
1904-           Dihancurkan Belanda.
2012-         Abdurrachman Thaha Syaifuddin (Dinobatkan pada tanggal 18       Maret 2012)


Friday, December 13, 2013

Sejarah Kota Kuala Tungkal


Sebelum abad ke-17 ditanah Tungkal ini sudah berpenghuni seperti Merlung, Tanjung Paku, Suban yang sudah dipimpin oleh seorang Demong. Jauh sebelum datangnya rombongan 199 orang dari Pariang Padang Panjang yang dipimpin oleh Datuk Andiko dan sebelum masuknya utusan Raja Johor.
Kemudian memasuki abad ke-17 ketika itu daerah ini masih disebut Tungkal saja, daerah ini dikuasai atau dibawah Pemerintahan Raja Johor. Dimana yang menjadi Wakil Raja Johor didaerah ini pada waktu itu adalah Orang Kayo Depati. Setelah lama memerintah Orang Kayo Depati pulang ke Johor dan beliau digantikan oleh Orang Kayo Ario Santiko yang berkedudukan di Tanjung Agung (Lubuk Petai) dan Datuk Bandar Dayah yang berkedudukan di Batu Ampar, daerahnya meliputi Tanjung Rengas sampai kehilir Kuala Tungkal atau Tungkal Ilir sekarang.
Memasuki abad ke-18 atau sekitar tahun 1841-1855 Tungkal dikuasai dan dibawah Pemerintahan Sultan Jambi yaitu Sultan Abdul Rahman Nasaruddin. Pada saat itu Kesultanan Jambi mengirim seorang Pangeran yang bernama Pangeran Badik Uzaman ke Tungkal yaitu Tungkal Ulu sekarang, kedatangannya disambut baik oleh Orang Kayo Ario Santiko dan Datuk Bandar Dayah.
Setelah terbukanya Kota Kuala Tungkal maka semakin banyak orang mulai datang, sekitar tahun 1902 dari Suku Banjar yang bermigrasi dari Pulau Kalimantan melalui Malaysia. Mereka ini berjumlah 16 orang antara lain : H. Abdul Rasyid, Hasan, Si Tamin gelar Pak Awang, Pak Jenang, Belacan gelar Kucir, Buaji dan kemudian mereka ini berdatangan lagi dengan jumlah agak besar yaitu 56 orang yang dipimpin oleh Haji Anuari dan Iparnya Haji Baharuddin, rombongan 56 ini banyak menetap di Bram Itam Kanan dan Bram Itam Kiri. Selanjutnya datang lagi dari suku Bugis, Jawa, Suku Donok atau Suku Laut yang banyak hidup di pantai/laut, dan Cina serta India yang datang untuk berdagang.
Pada tahun 1901 Kerajaan Jambi takluk keseluruhannya kepada Pemerintah Belanda termasuk Tanah Tungkal khususnya di Tungkal Ulu yang Konteleir Jenderalnya berkedudukan di Pematang Pauh. Sehingga pecah lah peperangan antara masyarakat Tungkal Ulu dan Merlung dengan Belanda. Karena mendapat serangan yang cukup berat akhirnya Pemerintah Belanda mengundurkan diri dan hengkang dari wilayah itu. Peperangan itu dipimpin oleh Raden Usman anak dari Badik Uzaman, Raden Usman kemudian wafat dan dimakamkan di Pelabuhan Dagang.
Selanjutnya muncullah Pemerintahan Kerajaan Lubuk Petai yang dipimpin oleh Orang Kayo Usman dan Lubuk Petai kemudian membentuk pemerintahan baru. Pada waktu itu dibentuklah oleh H. Muhammad Dahlan Orang Kayo yang pertama dalam penyusunan pemerintahan yang baru.
Orang Kayo pertama ini waktu masih diintip dan diserang oleh rombongan dari Jambi. Beliau diserang dan ditembak di rumahnya lalu patah. Maka bernamalah Pemerintahan itu dengan Pemerintahan Pesirah Patah sampai zaman kemerdekaan. 
Dusun - dusun pada Pemerintahan Pesirah Patah dan asal mula namanya yaitu :
  • Dusun Lubuk Kambing tadinya berasal dari Benaluh dan Lingkis.
  • Dusun Sungai Rotan tadinya berasal dari dusun Timong Dalam.
  • Dusun Rantau Benar tadinya berasal dari Riak Runai dan Air Talun.
  • Dusun Pulau Pauh tadinya berasal dari Kampung Jelmu Pulau Embacang.
  • Dusun Penyambungan dan Lubuk Terap berasal dari Suku Teberau.
  • Dusun Merlung tadinya berasal dari Suku Pulau Ringan.
  • Dusun Tanjung Paku tadinya berasal dari Tangga Larik.
  • Dusun Rantau Badak tadinya berasal dari Dusun Lubuk Lalang dan Tanjung Kemang.
  • Dusun Mudo tadinya Talang Tungkal dan Lubuk Petai
  • Dusun Kuala Dasal yang pada waktu itu belum lahir adalah Dusun Pecang Belango.
  • Dusun Tanjung Tayas tadinya berasal dari Bumbung.
  • Dusun Pematang Pauh.
  • Dusun Batu Ampar yang sekarang menjadi Pelabuhan Dagang.
  • Dusun Taman Raja tadinya bernama Pekan atau Pasar dari Kerajaan Lubuk Petai.
  • Dusun Suban tadinya berasal dari Suban Dalam.
  • Dusun Lubuk Bernai tadinya Tanjung Getting dan Lubuk Lawas.
  • Dusun Kampung Baru.
  • Dusun Tanjung Bojo.
  • Dusun Kebun.
  • Dusun Tebing Tinggi.
  • Dusun Teluk Ketapang.
  • Dusun Senyerang.

Marga Tungkal Ulu, terdiri dari :
  1. Pasirah MT. Pahruddin
  2. Pasirah Daeng Ahmad anak dari H. Dahlan (1953-1959)
  3. Pasirah Zikwan Tayeb (1959-1967)
  4. 1969 masa transisi perubahan marga
  5. Syafei Manturidi (1969-1973)
  6. Adnan Makruf (1974-1982)
Marga Tungkal Ilir, terdiri dari :
  1. Raden Syamsuddin (Pemaraf)
  2. M. Jamin
  3. Pasirah H. Berahim
  4. Pasirah Ahmad
  5. Pasirah Asmuni
  6. Pasirah H.M. Taher


Seiring bergulirnya perkembangn zaman berdasarkan keputusan Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk Pulau Sumatera di Kota Bukit Tinggi (Sumbar) pada tahun 1946 tanggal 15 April 1946, maka Pulau Sumatera dibagi menjadi 3(tiga) Provinsi, yaitu : Provinsi Sumatera Tengah, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Selatan. Pada waktu itu daerah Karesidenan Jambi terdiri dari Batanghari dan Sarolangun Bangko, tergabung dalam Provinsi Sumatera Tengah yang dikukuhkan dengan undang - undang darurat Nomor 19 Tahun 1957, kemudian dengan terbitnya undang - undang Nomor 61 Tahun 1958 pada tanggal 6 Januari 1958 Karesidenan Jambi menjadi Provinsi Tingkat I Jambi yang terdiri dari : Kabupaten BatanghariKabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Kerinci.
Pada tahun 1965 wilayah Kabupaten Batanghari dipecah menjadi 2(dua) bagian yaitu : Kabupaten Dati II Batanghari dengan Ibukotanya Kenali Asam, Kabupaten Dati II Tanjung Jabung dengan Ibukotanya Kuala Tungkal. Kabupaten Dati II Tanjung Jabung diresmikan menjadi daerah Kabupaten pada tanggal 10 Agustus 1965 yang dikukuhkan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1965 (Lembaran Negara No.50 Tahun 1965), yang terdiri dari Kecamatan Tungkal Ulu, Kecamatan Tungkal Ilir dan Kecamatan Muara sabak.
Setelah memasuki usianya yang ke-34 dan seiring dengan bergulirnya era Desentralisasi Daerah, dimana daerah diberi wewenang dan kekuasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, Maka Kabupaten Tanjung Jabung sesuai dengan Undang - undang Nomor 54 tanggal 4 Oktober 1999 tentang pemekaran wilayah Kabupaten dalam Provinsi Jambi telah memekarkan diri menjadi wilayah yaitu :
1. Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagai Kabupaten Induk dengan Ibukota Kuala Tungkal.
2.Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagai Kabupaten hasil pemekaran dengan Ibukota Pangkalan Bulian.






Sumber : Lembaga Adat Tanjab Barat

Monday, November 11, 2013

Kota Sungai Penuh

Sejarah Kota Sungai Penuh
Kota Sungai Penuh merupakan kota yang terbentuk hasil pemekaran dari Kabupaten Induk (Kab. Kerinci) dan merupakan salah satu dari 11 Kabupaten/Kota yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Bapak H. Mardiyanto (a.n. Presiden Republik Indonesia) pada tanggal 8 November 2008, dengan dasar hukum No.25 Tahun 2008 tentang pembentukan Kota Sungai Penuh di Provinsi Jambi. Disahkan oleh DPR-RI tanggal 21 juli 2008, pemekaran Kota Sungai Penuh ini diprakarsai oleh mantan Bupati Kab. Kerinci, H. Fauzi Siin. Berikut ini kronologis Pembentukan Kota Sungai Penuh :

1. Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda (Goverment Belsuit) Nomor 13 tanggal 3 November 1909, Sungai Penuh ditunjuk sebagai Ibukota.

2. Aspiriasi masyarakat membentuk Kota Sungai Penuh sejak Tahun 1970-an.

3. Perkembangan Kota Sungai Penuh tidak  efektif dikelola hanya oleh Pemerintah Kecamatan.

4. Kota Sungai Penuh merupakan Kota terpadat kedua di Provinsi Jambi setelah Kota Jambi.

5. PP Nomor 129 Tahun 2000 tentang persyaratan, pembentukan, dan kriteria pemekaran, penghapusan dan penggabungan daerah.

6. Untuk peningkatan pelayanan publik dan percepatan pembangunan.

7. Hasil penilitian oleh Prof.Dr. Sadu Wasistiono, MS (Pasca Sarjana IPDN) Tahun 2005 yang menyatakan bahwa Kabupaten Kerinci layak untuk dimekarkan.


Lambang Kota Sungai Penuh
Gbr. Lambang Kota Sungai Penuh
Arti Lambang :
- Figura : Diambil dari bentuk atap rumah adat Kota Sungai Penuh
- Pintu Mesjid berjumlah 8 (delapan) buah : Tanggal terbentuknya Kota Sungai penuh yaitu tanggal 8 (delapan). Pucuk larangan atau undang yang delapan.
- Garis-garis yang melingkari gong adalah gema gong berjumlah 11 (sebelas) garis.
- Padi dan Kapas (Padi=20 butir, Kapas=8 buah) : Cita-cita Pemerintah Kota Sungai Penuh untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang makmur sejahtera dalam sandang dan pangan. Padi 20 butir dan kapas 8 buah adalah tahun terbentuknya Kota Sungai Penuh yaitu tahun 2008.
- Gong : Kekuatan kebudayaan dan adat-istiadat Kota Sungai Penuh.
- Mesjid Agung Pondok Tinggi : Ikon Kota Sungai Penuh yang menyimpan banyak sejarah dan kebanggaan masyarakat Kota Sungai Penuh.
- Bintang Bersudut Lima : Kesetiaan masyarakat Kota Sungai Penuh pada NKRI.
- Keris : Sebagai pusaka suci peninggalan Depati - Depati yang melambangkan perjuangan rakyat Kota Sungai Penuh.
- Bunga Melati Air : Stempel /  cap yang tertera pada piagam/surat kuno baik yang berasal dari Jambi maupun Sumatera Barat masih banyak tersimpan pada Tokoh - Tokoh adat Kota Sungai Penuh.
- Tulisan Incung : Tulisan Incung kuno yang terdapat hampir disetiap benda pusaka Kota Sungai Penuh. Tulisan ini telah digabungkan dan terbentuklah tulisan Incung yang artinya  "SAHALUN SUHAK SALATUH BDEI".
- Sahalun Suhak Salatuh Bdei : Merupakan semboyan yang memperlihatkan kekompakan, dan selalu bermusyawarah untuk bermufakat dalam setiap pengambilan keputusan.
- Latar Belakang Perbukitan dan Hamparan Sawah : Merupakan perbukitan yang kaya akan potensi wisata alam sekaligus bentuk bentang alam Kota Sungai Penuh.
- Gambar Ukiran Keluk Paku Kacang Belimbing : Masyarakat Kota Sungai Penuh dalam menuntut ilmu tidak ada henti - hentinya seperti Keluk Paku dan Akar Kacang Belimbing yang tidak bertemu ujung dan pangkalnya, menjalar terus - menerus.


Geografi dan Topografi
Letak Geografis Kota Sungai Penuh  antara 1010 14'32"BT sampai dengan 1010 27'31"BT dan 020 01'40" LS sampai dengan 020 14'54" LS. Dengan luas keseluruhan 39.150 ha, yang terdiri dari TNKS seluas 23.177,6 ha (59,2%) dan lahan hunian budidaya seluas 15.972,4 ha (48,8%).
Berdasarkan UU No.25 Tahun 2008 batas wilayah Kota Sungai Penuh adalah :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Depati Tujuh Kabupaten Kerinci.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan  Kecamatan Sitinjau Laut, dan Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kab. pesisir dan Kab. Mukomuko.
  • Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Air hangat timur.
Wilayah kota ini memiliki Topografi berbukit-bukit, berada pada kawasan Bukit Barisan dan hutan tropis dengan ketinggian 100-1000 m diatas permukaan laut, dengan luas kemiringan lahan antara 0-20% sekitar 6.300 ha, luas daratan bergelombang dengan kemiringan antara 5-150% sekitar 1.295 ha, luas daratan curam bergelombang dengan kemiringan antara 16-400% sekitar 4.345 ha, dan luas daratan sangat curam yang bergelombang dengan kemiringan antara lebih 400% sekitar 1.295 ha. Topografi Kota Sungai Penuh berada pada dataran tinggi berbukit-bukit dan dikelilingi bukit barisan dan hutan lebat menyebabkan Kota Sungai Penuh memiliki iklim yang sejuk dan nyaman.
 
Tempat Kunjungan Wisata
Kota Sungai Penuh memiliki beberapa potensi wisata, antara lain :
 
1. Bukit Khayangan dan Bukit Semancik
 
Taman Bukit Khayangan dan Bukit Semancik merupakan tempat memandang  panorama alam, dimana kita dapat memandang dari ketinggian dengan melihat kota sungai penuh, danau kerinci, gunung kerinci, hamparan sawah yang membentang dan desa-desa tempat tinggal penduduk tertata disepanjang pinggiran bukit hijau. 
 
2. Bukit Sentiong
 
Bukit Sentiong merupakan tempat memandang dari ketinggian Kota Sungai Penuh diwaktu sore dan malam hari dimana dapat terlihat seluruh Kota Sungai Penuh dan hamparan sawah yang terbentang luas.
 
3. Water Park
 
Kota Sungai Penuh mempunyai banyak sumber mata air sehingga sangat mendukung untuk membangun kolam renang dan water park.
 
4. Pembangunan Pasar Tradisional Pariwisata
 
Pasar ini khusus untuk tempat menjual barang-barang cinderamata yang berasal dari home industri Kota Sungai Penuh.
 
5. Bukit Tapan
 
Lokasi obyek wisata yang satu ini sangat strategis, terdapat perbukitan dan pepohonan yang rindang serta akses menuju lokasi cukup baik dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

6. Taman Bunga Puti Senang

Taman Bunga Puti Senang terletak tidak jauh dari perkotaan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan pemandangan yang dihiasi bermacam bentuk dan jenis - jenis bunga.

Tuesday, October 29, 2013

Kota Jambi

Kota Jambi adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Jambi, Indonesia. Kota Jambi dibelah oleh sungai yang bernama Batanghari, kedua kawasan tersebut dapat dihubungi oleh jembatan yang bernama jembatan Aur Duri I dan jembatan Aur Duri II.

Lambang Kota Jambi berbentuk Perisai dengan bagian yang meruncing dibawah, dikelilingi 3 (tiga) garis dengan warna bagian luar putih, tengah berwarna hijau dan bagian luar berwarna putih. Garis hijau yang mengelilingi lambang pada bagian atas lebih lebar dan didalamnya tercantum tulisan "KOTA JAMBI" yang melambangkan nama daerah dan diapit oleh 2 buah bintang bersudut 5 berwarna putih, yang melambangkan kondisi kehidupan sosial masyarakat Jambi yang terdiri dari berbagai suku dan agama memiliki keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Warna dasar lambang berwarna biru langit.



Arti Lambang :
- Senapan/Lelo, Gong & Angsa :
Setelah orang Kayo Hitam menikah dengan putri Temenggung Merah Mato yang bernama Putri Mayang Mangurai, maka oleh Temenggung Merah Mato anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako kemudian disuruh menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru.
Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan bahwa tempat yang akan dipilih ialah dimana sepasang Angsa naik ketebing dan mupur di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua Angsa naik kedarat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut "Tanah Pilih", dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.
Sewaktu Orang Kayo Hitam menebas untuk menerangi tempat tersebut ditemukannya sebuah Gong dan Senapan/Lelo yang diberi nama "SITIMANG" dan "SIDJIMAT", yang kemudian kedua benda tersebut menjadi barang Pusaka Kerajaan Jambi yang disimpan di Museum Negeri Jambi.

- Keris :
Keris tersebut bernama "KERIS SIGINJAI" dan merupakan lambang kebesaran serta kepahlawanan Raja dan Sultan Jambi dahulu, karena barang siapa yang memiliki keris tersebut dialah yang diakui sebagai penguasa atau berkuasa untuk memerintah Kerajaan Jambi.

- Garis Biru 9 Buah :
Garis-garis ini melambangkan luasnya wilayah Kerajaan Jambi dahulu yang meliputi 9 buah lurah dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama :
1. Batang Asai
2. Batang Merangin
3. Batang Masurai
4. Batang Tabir
5. Batang Senamat
6. Batang Jujuhan
7. Batang Bungo
8. Batang Tebo
9. Batang Tembesi
Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kerajaan Jambi. 

- Garis Hijau 6 Buah :
Garis ini melambangkan bahwa wilayah Kota Jambi dahulunya secara administratif terdiri dari 6 kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Pasar Jambi
2. Kecamatan Jambi Timur
3. Kecamatan Jambi Selatan
4. Kecamatan Telanaipura
5. Kecamatan Danau Teluk
6. Kecamatan Pelayangan
Kecamatan kecamatan ini dibentuk dengan SK Gubernur Jambi Tanggal 5 Juni 1965 NO. 9/A-I/1965.
Pada tahun 2002 wilayah Kota Jambi dimekarkan menjadi 8 kecamatan yang terdiri dari 62 kelurahan berdasarkan Perda No. 35 tahun 2002.

- Pohon Pinang :
Pohon Pinang melambangkan asalnya isitlah atau perkataan "DJAMBE" dahulu yang kemudiam dipakai sebagai nama untuk menyebut daerah ini (Keresidenan Jambi, Propinsi Jambi dan Kota Jambi)
Istilah "JAMBI" ini berasal dari perkataan "DJAMBE" (bahasa Jawa). Dan "DJAMBE" ini nama sejenis Pohon Pinang. Istilah "DJAMBE" lama kelamaan berubah menjadi "DJAMBI". Dan terakhir karena ejaan yang disempurnakan maka istilah "DJAMBE" berubah pula menjadi JAMBI.

- Motto “ Tanah Pilih Pesako Betuah”
Kota Jambi mempunyai motto "TANAH PILIH PESAKO BETUAH" yang tertera pada sehelai Pita Emas dibawah Lambang Kota Jambi, yang mengandung pengertian secara harfiah :
a. Tanah : permukaan bumi paling atas atau kondisi area suatu tempat.
b. Pilih : pilihan yang dipilih dari yang lain dengan teliti
c. Pesako : warisan
c. Betuah : memiliki kelebihan luar biasa (sakti) yang tidak dimiliki oleh yang lain

TANAH PILIH PESAKO BETUAH pada hakekatnya mengandung pengertian sebagai berikut :
a. Melambangkan suatu pernyataan bahwa Kota Jambi adalah berasal dari tanah yang dipilih oleh Raja Jambi untuk dijadikan Pusat Pemerintahan Kerajaan Melayu Jambi yang diwariskan kepada kita yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang sangat berharga untuk kita jaga dan pelihara untuk kemudian kita wariskan kepada anak cucu kita kelak.
b. Menggambarkan kehidupan masyarakat Kota Jambi yang rukun, damai, aman, makmur dan sejahtera lahir-batin karena mengutamakan kegotongroyongan.

TANAH PILIH PESAKO BETUAH secara filosofis mengandung pengertian sebagai berikut :
"Bahwa Kota Jambi sebagai Pusat Pemerintahan Kota sekaligus sebagai Pusat Sosial Ekonomi serta Kebudayaan juga mencerminkan jiwa masyarakatnya sebagai duta kesatuan baik individu, keluarga dan kelompok maupun secara institusional yang lebih luas, berpegang teguh dan terikat pada nilai-nilai adat istiadat dan hukum adat serta peraturan perundang-undangan yang berlaku."

Geografi & Topografi Kota Jambi
Dengan populasi penduduk sebesar 540.258 jiwa (±17% dari seluruh populasi penduduk Provinsi Jambi), mayoritas penduduk merupakan suku Melayu Jambi, sedangkan suku (suku bangsa) lain yang hidup berdampingan dengan harmonis di Kota Jambi, antara lain : Aceh, Banjar, Batak, Bugis, Flores, Habib (keturunan Arab), keturunan India, Jawa, Padang, Palembang, Papua, Sunda, dan Tiong-hoa (Hokhian, Techiu, Khek, Hainan).

Kota Jambi dengan luas wilayah ± 205.38 km² (berdasarkan UU No. 6 tahun 1986), terletak pada kordinat :
01° 30’ 2.98"
-
01° 7’ 1.07"
Lintang Selatan
103° 40’ 1.67"
-
103° 40 0.23"
Bujur Timur

Koordinat tersebut menunjukkan keberadaan Kota Jambi yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera. Secara geomorfologis Kota Jambi terletak di bagian Barat cekungan Sumatera bagian selatan yang disebut Sub-Cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatera Timur.

Ditilik dari topografinya, Kota Jambi relatif datar dengan ketinggian 0-60 m diatas permukaan laut. Bagian bergelombang terdapat di utara dan selatan kota, sedangkan daerah rawa terdapat di sekitar aliran Sungai Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang keseluruhan lebih kurang 1.700 km, dari Danau Atas - Danau Bawah (Sumatera Barat) menuju Selat Berhala (11 km yang berada di wilayah Kota Jambi) dengan kelebaran lebih kurang 500 m. Sungai Batanghari membelah Kota Jambi menjadi dua bagian disisi utara dan selatannya. Secara administratif berbatasan langsung dengan Kab. Muaro Jambi, Propinsi Jambi.

Sejarah Kota Jambi
Jambi sebagai daerah pemukiman atau pemusatan penduduk bahkan sebagai pusat kedudukan pemerintahan telah berjalan dari masa ke masa. Sejarah Dinasti Sung menguraikan bahwa Maharaja San-fo-tsi (Swarnabhumi) bersemayam di Chan-pi. Utusan dari Chan-pi datang untuk pertama kalinya di istana Kaisar China pada tahun 853M. Utusan ke dua kalinya datang pula pada tahun 871M. Informasi ini menorehkan bahwa Chan-pi (yang diidentifikasikan Prof. Selamat Mulyana sebagai Jambi) sudah muncul diberita China pada tahun - tahun tersebut. Dengan demikian Chan-pi atau Jambi sudah ada dan dikenal pada abad ke 9M. Berita China Ling Pio Lui (890-905M) juga menyebut Chan-pi (Jambi) mengirim misi dagang ke China.

Silsilah Raja-raja Jambi tulisan Ngebih Suto Dilago Priayi Rajo Sari pembesar dari kerajaan Jambi yang berbangsa 12, menulis Putri Selaro Pinang Masak anak rajo turun dari Pagaruyung di rajakan di Jambi. Dari sebutan Pinang dalam bahasa Jawa (Sunda) dilapas sebagai Jambe sehingga ditenggarai banyak orang sebagai asal kata Jambi. Jadi ada perubahan bunyi dan huruf dari Jambe ke Jambi. Identifikasi ini menginformasikan kata Jambe-Jambi terbuhul pada abad ke 15 yaitu di masa Puteri Selaro Pinang Masak memerintah dikerajaan Jambi Tahun 1460-1480.

Raden Syarif (yang kemudian diungkapkan kembali oleh Datuk Sulaiman Hasan) dari "Riwayat Tanjung Jabung Negeri Lamo" mencatat bahwa Puteri Selaro Pinang Masak mengilir dari Mangun Jayo ke Tanjung Jabung di pandu oleh sepasang itik besar (Angso Duo) yang mupur ditanah pilih pada tanggal 28 Mei 1401. Legenda Tanah Pilih ini berbeda versi dengan Ngebi Suto Dilago. Silsilah Raja-raja Jambi menyebut Orang Kayo Hitam (salah seorang putera dari pasangan puteri Selaro Pinang Masak dengan Ahmad Barus II/Paduko Berhalo) yang mengilir mengikuti sepasang itik besak (Angso Duo) atas saran petuah mertuanya Temenggung Merah Mato Raja Air Hitam Pauh.

Profesor Moh. Yamin mengidentifikasi Jambi berada disekitar Kantor Gubernur Jambi di Telanaipura sekarang. Indikasi ini atas dasar mulai dari kawasan Mesjid Agung Al-falah sampai ke Pematang pinggiran Danau Sipin terdapat deretan struktur batuan bata candi yang diantaranya menunjukan sebagai komplek percandian yang cukup besar dikawasan kampung Legok.

Tidak tertutup kemungkinan penemuan tanah pilih oleh sepasang Angso yang mupur tersebut adalah pembukaan kembali Kota Chan-pi yang ditinggal karena kerajaan SwarnaBhumi (San-fo-tsi) diserang oleh Singosari dalam peristiwa Pamalayu tahun 1275M dan pindah ke pedalaman Batang Hari yang kemudian dikenal sebagai Darmasraya (Sumatera Barat). Dua Puteri Melayu/Darmasraya yaitu Dara Petak dan Dara Jingga diboyong oleh Mahisa Anabrang ke Singosari pada tahun 1292. Ternyata di saat itu Singosari telah runtuh oleh pemberontak dan kemudian mendapat serbuan tentara Khu Bilaikhan. Singosari berganti menjadi Majapahit dengan Rajanya Raden Wijaya. Salah seorang keturunan Puteri melayu itu yaitu dari pasangan Dara Jingga yaitu Adityawarman kembali ke Darmasraya kemudian mendirikan dan menjadi Raja di Pagaruyung (1347-1375M). Anaknya yang bernama Ananggawarman meneruskan teratah kerajaan Pagaruyung. Keturunan Ananggawarman salah satunya adalah Puteri Selaro Pinang Masak yang dirajakan di Jambi.
Setelah Orang Kayo Hitam dirajakan pusat kerajaan dipindahkan dari Ujung Jabung ke Tanah Pilih Jambi disekitar awal abad ke 16. Jadilah Jambi kembali sebagai tempat kedudukan Pemerintahan.

Pangeran Depati Anom yang naik tahta dikerajaan Jambi bergelar Sultan Agung Abdul Jalil (1643-1665M) pernah memberikan surat izin untuk mendirikan pasar tempat berjual beli di Muaro Sungai Asam pada seorang Belanda bernama Beschseven. Izin Sultan tersebut tertanggal 24 Juni 1657 dimana lokasi yang diizinkan itu kemudian berpindah dari Muaro Sungai Asam ke sekitar Muaro Sungai di bawah area WTC Batang Hari sekarang.

Jambi sebagai pusat pemukiman dan tempat kedudukan raja terus berlangsung. Istana yang dibangun di Bukit Tanah Pilih disebut sebagai istana tanah pilih yang terakhir sebagai tempat Sultan Thaha Saifuddin dilahirkan dan dilantik sebagai sultan tahun 1855. Istana Tanah Pilih ini kemudian di bumi hanguskan sendiri oleh Sultan Thaha tahun 1858 menyusul serangan balik tentara Belanda karena Sultan dan Panglimanya Raden Mattaher menyerang dan berhasil menenggelamkan 1 kapal perang Belanda Van Hauten di perairan Muaro Sungai Kumpeh.

Dari puing - puing Istana Tanah Pilih oleh Belanda dikuasai dan dijadikan tempat markas serdadu Belanda. Praktis setelah Sultan Thaha Saifuddin gugur tangga 27 April 1904 Belanda secara utuh menempatkan wilayah kerajaan Jambi sebagai bagian wilayah kekuasaan Kolonial Hindia Belanda. Jambi kemudian berstatus Under Afdeling di bawah Afdeling Palembang. Pada Tahun 1906 Under Afdeling Jambi ditingkatkan sebagai Afdeling Jambi kemudian di tahun 1908 Afdeling Jambi menjadi Kerisidenan Jambi dengan residennya O.L. Helfrich berkedudukan di Jambi. Sampai masa Kemerdekaan pejabat Residen dari Keresidenan Jambi berkedudukan di Jambi. Setelah Republik Indonesia di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, berdasarkan berita RI Tahun II No. 07 hal 18 tercatat untuk sementara waktu daerah Negara Indonesia di bagi dalam 8 Provinsi yang masing - masing dikepalai oleh seorang Gubernur diantaranya Provinsi Sumatera. Provinsi Sumatera ini kemudian pada tahun 1946 dibagi lagi dalam 3 sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sub Provinsi Sumatera Tengah dan Sub Provinsi Sumatera Selatan. Keresidenan Jambi dengan hasil voting dimasikan ke dalam wilayah Sub Provinsi Sumatera Tengah.

Residen Jambi yang pertama di masa Republik adalah Dr. Asyagap sebagaimana tercantum dalam pengumuman Pemerintah tentang pengangkatan residen, Walikota di Sumatera dengan berdasarkan pada surat ketetapan Gubernur Sumatera tertanggal 03 Oktober 1945 No. 1-X.

Pada tahun 1945 tersebut sesuai Undang-undang no.1 tahun 1945 wilayah Indonesia terdiri dari Provinsi, Karesidenan, Kewedanaan dan Kota. Tempat kedudukan Residen yang telah memenuhi syarat, disebut Kota tanpa terbentuk struktur Pemerintahan Kota. Dengan demikian Kota Jambi sebagai tempat kedudukan Residen Keresidenan Jambi belum berstatus dan memiliki pemerintahan sendiri. Kota Jambi baru diakui berbentuk pemerintahan ditetapkan dengan ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 tahun 1946 tertanggal 17 Mei 1946 dengan sebutan Kota Besar dan Walikota pertamanya adalah Makalam
Mengacu pada Undang-undang No. 10 tahun 1948 Kota Besar menjadi Kota Praja. Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 18 tahun 1965 menjadi Kota Madya dan berdasarkan Undang-undang No. 22 tahun 1999 Kota Madya berubah menjadi Pemerintah Kota Jambi sampai sekarang.

Dengan Undang-undang No. 19 Tahun 1958 Keresidenan Jambi sebagai bagian dari Provinsi Sumatera Tengah dikukuhkan sebagai Provinsi Jambi yang berkedudukan di Jambi. Kota Jambi sendiri pada saat berdirinya Provinsi Jambi telah berstatus Kota Praja dengan Walikotanya R. Soedarsono.

Tanggal penetapan Kota Jambi sebagai Kota Praja yang mempunyai Pemerintahan sendiri sebagai Pemerintah Kota dengan ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 Tahun 1946 tertanggal 17 Mei 1946 dipilih dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Jambi No. 16 Tahun 1985 dan disahkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi No. 156 Tahun 1986, tanggal 17 Mei 1946 itu sebagai Hari Jadi Pemerintah Kota Jambi. (Drs.H.Junaidi.T.Noor.MM).
Setelah era reformasi, terjadi perubahan struktur Pemerintah Kota Jambi, yang berdasarkan UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU no. 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah), Walikota sebagai Kepala Daerah, didampingi oleh Wakil Walikota.