Showing posts with label purbakala. Show all posts
Showing posts with label purbakala. Show all posts

Wednesday, January 22, 2014

Situs Candi Solok Sipin

Situs Candi Solok Sipin terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Legok, Kota Jambi, Provinsi Jambi. Situs ini berasal dari periode klasik Hindu - Budha, didalam situs saat ini hanya tinggal puing-puing berupa pondasi batu bata bangunan Candi Solok Sipin.


Pada Candi Solok Sipin ini juga terdapat Archa Budha yang terbuat dari batu pasiran (Sand Stone) setinggi 1,72 meter yang di gambarkan dalam posisi berdiri memakai jubah. Kemudian di situs ini juga di temukan 2 buah makara, lapik dan stupa. baik archa maupun makara saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta, sedangkan lapik dan stupa tersimpan di Museum Negeri Jambi.


Riwayat penemuan dimulai dari catatan orang Belanda yang pernah datang ke Jambi, sedangkan riwayat pembangunan Candi Solok Sipin tidak bisa diketahui dengan pasti, belum ada penelitian yang mendalam tentang  keberadaan situs candi ini. Pada Archa Budha terdapat tulisan " Dang Acharrya Syuta ", berdasarkan tulisan itu dapat diperkirakan archa berasal dari abadi ke 8 M dan salah satu makara yang ditemukan memiliki angka Tahun 1064 M.


Sayang, baik lokasi situs maupun percandian ini sudah semakin terhimpit oleh pemukiman penduduk dan hanya beberapa bagian saja yang dapat diselamatkan. Lokasi yang berada di pemukiman padat penduduk ini sangat menyulitkan dalam mengidentifikasi struktur batu bata yang terdapat di Legok. Bahkan diatas gundukan tanah yang didalamnya terdapat reruntuhan candi itupun telah berdiri beberapa rumah penduduk.

Thursday, November 14, 2013

Keris Siginjai Pusaka Negeri Jambi

Pada saat Pemerintahan Kerajaan Melayu Jambi dibawah kepemimpinan kakaknya RangKayo Hitam yang bernama RangKayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada Raja Kerajaan Mataram. Memang pada saat itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan Kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun.

Mendengar adanya perlawanan di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upetinya kepada Kerajaan Mataram dan tentang adanya seseorang yang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggagalkan upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Melayu Jambi yang disebut serangan" Pamalayu " dan segera memerintahkan  seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam.

Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju ke Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah Kerajaan Mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang Empu yang sedang  membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada si Empu untuk siapa keris tersebut, Empu itupun menjelaskan bahwa keris itu untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu Empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali dengan huruf P dan akan sempurna bila telah dimandikan ditujuh muara. Akhirnya Rangkayo Hitam merebut keris tersebut dari tangan sang Empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itu pun akhirnya tewas ditangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris itu, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu Jambi untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti Kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara hingga keris tersebut menjadi sakti. Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan " Ginjai " yang berarti Tusuk Konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama " Keris Siginjai ".

Gbr. Keris Siginjai
Keris Siginjai ini terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi, dan nikel. Bilah/Wilahan Keris Siginjai panjang lebih kurang 39 cm dan berlekuk (luk) 5. Permukaan Keris Siginjai pada mulanya kemungkinan ditutupi lapisan emas murni karena pada saat ini masih terlihat adanya bekas lapisan emas yang terlepas. Lapisan emas itu berfungsi untuk memperindah keris dan yang lebih utama untuk menutupi pamor pada keris yang bermotif flora. Pamor keris ini semakin ke ujung semakin kabur. Pada lekuk pertama hingga keempat pamor itu tampak jelas, namun pada lekuk kelima sampai ke mata keris, pamornya sudah tidak jelas lagi. Keris Siginjai memiliki dua buah ganja, yang salah satunya melengkung ke arah mata keris. Sedangkan pada sisi terlebar pangkal bilah keris terdapat bentukan yang menjorok keluar dan memiliki 6 buah tonjolan yang ujungnya runcing, mirip dengan senjata penjepit pada binatang kalajengking. Tonjolan yang terbesar disebut belalai gajah atau keluk kacang.

Hulu (gagang) Keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning yang bagian kepalanya dibuat menjarak kearah permukaan badan keris. sedangkan pada bagian yang dekat dengan wilahan terdapat mendak yang berbentuk kelopak bunga teratai. Diatas mendak terdapat 16 garis lengkung yang disetiap lengkungannya dipasang sebuah batu mulia, yang terdiri dari 8 buah intan berbentuk segi tiga dan 8 buah berlian berbentuk lonjong (oval). Dibawah setiap intan dan berlian terdapat bidang lengkung yang semakin menyempit kearah bilah keris. Pada permukaan bidang lengkung tersebut dilapisi dengan emas murni dan  diukir hiasan bunga-bunga kecil dan diatHulu (gagang) Keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning yang bagian kepalanya dibuat menjarak kearah permukaan badan keris. sedangkan pada bagian yang dekat dengan wilahan terdapat mendak yang berbentuk kelopak bunga teratai. Diatas mendak terdapat 16 garis lengkung yang disetiap lengkungannya dipasang sebuah batu mulia, yang terdiri dari 8 buah intan berbentuk segi tiga dan 8 buah berlian berbentuk lonjong (oval). Dibawah setiap intan dan berlian terdapat bidang lengkung yang semakin menyempit kearah bilah keris. as garis lengkung itu terdapat jalinan berbentuk benang-benang email warna hijau dan kuning.
Sarung keris / Wrangka Keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning sedangkan pendok keris terbuat dari lempengan emas murni yang seluruh permukaannya dihiasi dengan ukiran bermotif flora. Pada wrangka Keris Siginjai ini juga terdapat gayaman berbentuk perahu agak kecil tetapi tebal. Didekat gambar perahu terdapat lengkungan yang berbentuk sedikit bundar.
Keris Siginjai merupakan benda pusaka yang dimiliki secara turun-temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama lebih dari 400 tahun keris ini tidak hanya sekedar sebagai lambang mahkota Kesultanan Jambi, tetapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat jambi dan bahkan saat ini menjadi lambang Provinsi Jambi. Sultan terakhir yang memegang benda Kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke-20.

Gbr. Keris & Sarung Keris Siginjai

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Keris Siginjai diambil oleh belanda dan bersama dengan sebuah pusaka Kesultanan Jambi lainnya, yaitu Keris Singa Marjaya dibawa ke Batavia. Setelah Indonesia merdeka kedua keris tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Jakarta, bersama dengan keris-keris pusaka dari berbagai daerah lain di Indonesia untuk dirawat, dipelihara dan dilestarikan agar generasi penerus dapat mengetahui bahwa Nenek Moyangnya mampu membuat sebuah mahakarya yang indah walaupun dengan mempergunakan peralatan tradisional yang seadanya.

Friday, October 4, 2013

Situs Purbakala Candi Muaro Jambi

Tahukah anda jika di provinsi Jambi pernah  berdiri 3 (tiga) kerajaan Melayu ?? dua diantaranya bercorak Budha, bermula dari kerajaan Malayu (Melayu tua) kemudian muncul kerajaan Dharmasraya (Melayu muda), dan terakhir adalah Kesultanan Jambi yang bercorak islam (Melayu islam). ketiga kerajaan tersebut berdiri silih berganti sejak abad ke-4 Masehi hingga kedatangan bangsa belanda ke jambi yang berhasil menghancurkan Kesultanan Jambi pada tahun 1904. Salah satu saksi keberadaan kerajaan Melayu Jambi adalah Candi Muaro Jambi, yang terletak di desa Muaro Jambi Kec. Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Desa Muaro Jambi terletak 2 km sebelah timur laut kota Jambi yang dapat di tempuh sekitar 20 menit perjalanan menggunakan jalur darat melalui jembatan Batanghari II. Beberapa pemandu wisata lokal menyarankan untuk lewat jalur Olak Kemang, karena melalui jalur ini kita akan melihat sebuah suguhan pemandangan rumah panggung asli berarsitektur kuno dengan ukiran kayu khas jambi. Diperkirakan candi-candi dilokasi situs sejarah candi Muaro jambi mulai dibangun sejak abad 4 m. sampai sekarang disitus candi Muaro Jambi telah teridentifikasi kurang lebih 110 bangunan candi yang terdiri dari kurang  39 kelompok candi dengan luas komplek percandian  2.612 hektar. Dikawasan ini terdapat beberapa candi yang berhasil di pugar diantaranya : candi Kedaton, candi Gumpung, candi Tinggi I, Candi Tinggi II, candi Astano, candi Kembar batu, candi Gedong I, candi Gedong II, candi Koto Mahligai dan Kolam Telago Rajo. Seluruh bangunan candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Melayu yang berlatarbelakang kebudayaan  Melayu Budhis.


Candi Kedaton
Gbr. candi kedaton

Candi Kedaton merupakan kompleks candi terbesar yang ada di Situs Muaro Jambi. Halaman kompleks dikelilingi pagar tembok, reruntuhannya masih dapat ditemui, dan diperkirakan memiliki panjang yang mengelilingi wilayah 215 x 250 m. Di dalam kompleks terdapat candi induk yang menghadap ke utara dan berdenah bujur sangkar berukuran 26 x 26 meter. Bangunannya mudah dikenali karena bentuknya yang besar dan pada salah satu dinding sisi barat terdapat longsoran berangkal berwarna putih yang merupakan bagian dari batu isian bangunan. Kebesaran candi juga tampak dari aneka ragam temuan purbakala seperti padmasana batu, umpak-umpak batu, ubin bata serta tidak jauh dari lokasi candi pernah ditemukan sebuah belanga yang cukup besar, yang kini tersimpan di Museum Situs.

 Candi Gumpung
Gbr. candi Gumpung
Candi Gumpung adalah candi terbesar kedua setelah candi Kedaton. Candi Gumpung tersusun dari bangunan bata dari berbagai bentuk dan ukuran. Dan disini pernah ditemukan benda purbakala yang berhasil di ketemukan oleh para arkeolog. Kelompok Candi Gumpung dibatasi pagar keliling yang membentuk bujur sangkar yang memiliki ukuran panjang keseluruhan 604,40 meter. Luas keseluruhan areal Candi Gumpung adalah 229,50 m2. Candi Gumpung memiliki Candi Perwara (penampil) sebanyak 5 buah, yang belum jelas benar wujudnya, 4 buah gapura dan 2 buah tempat yang diperkirakan bekas kolam. Gumpung berasal dari penamaan sebuah menapo gumpung dari masyarakat sekitar, dalam bahasa melayu berarti papak atau patah atau terpotong diatasnya. Salah satu penemuan arca di Candi Gumpung memperlihatkan ciri-ciri yang banyak persamaannya dengan arca Prajnaparamita dari zaman Singosari. 

Candi Tinggi I
Gbr. candi Tinggi I


Candi Tinggi II

Gbr. candi Tinggi II

Candi berikutnya adalah Candi Tinggi II, berjarak 500 meter sebelah timur laut Candi Gumpung. Luas komplek Candi Tinggi 2,92 Ha terdiri dari 1 bangunan induk, 6 bangunan perwara dan pagar keliling. Bangunan induk telah dipugar berdenah bujur sangkar, berukuran 16 m x 16 m dengan tinggi 7,6 m. Diperkirakan dahulu, candi ini dibangun dua tahap, hal ini terbukti dari struktur bangunan yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh dibagian dalam bangunan candi. Bagian penampil dan tangga naik pada candi induk berada di sebelah selatan. Sedangkan candi perwara yang berbentuk bujur sangkar meyebar di sisi timur laut, barat, baratdaya, selatan candi induk. Keadaan sekarang dari bangunan tersebut yang tersisa hanya bagian pondasi dan sedikit bagian kaki, gapura menuju komplek candi tinggi ini terletak di timur dan barat. Pada candi induk terdapat tangga naik menuju kedua teras candi dengan tubuh bangunan makin mengecil pada puncaknya. Beberapa temuan yang sekarang tersimpan di Museum Situs, antara lain sejumlah potongan benda dari besi dan perunggu, pecahan arca batu, fragmen keramik asing dari Cina asal abad ke-9 hingga ke-14 Masehi. Disamping itu juga terdapat bata-bata kuno yang digores dengan tulisan yang lazim dipakai pada abad ke-9 Masehi, sezaman dengan tulisan prenagari.Tidak jauh dari Candi Tinggi II, terdapat Candi Tinggi I, candi ini berukuran lebih kecil dari Candi Tinggi II.

Candi Astano
Gbr. candi Astano


Candi Astano berada sekitar 1.250 m arah timur Candi Tinggi. Bangunan candi induk unik, berbeda bentuk dibanding candi-candi lain yang ada di Situs Muaro Jambi. Bentuk bangunan memiliki 12 sisi, menurut penafsiran para ahli, bentuk tersebut merupakan gabungan tiga bangunan yang masing-masing berbeda usianya atau dibangun lebih dari satu kali. Selain itu di lokasi candi juga ditemukan dau buah padmasana (lapik/dudukan arca), keramik asing dari masa Dinasti Sung dan ratusan manik-manik.

Candi Kembar Batu
Gbr. candi Kembar Batu


Dikompleks candi Muaro Jambi ini, terdapat Candi Kembar Batu, letaknya sekitar 250 meter di tenggara Candi Tinggi yang dibatasi fisik oleh pagar keliling yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran yang tidak sama setiap sisinya, namun secara kasar dapat dihitung 64 X 54 meter persegi dan terdapat struktur tiang bangunan yang terbuat dari kayu dan lantai yang terbuat dari batu bata. Gong Cina pernah ditemukan oleh para arkeolog. Gong yang berasal dari perunggu beraksara Cina ini disebut-sebut sebagai gong perang, yang kini tersimpan di Museum Negeri Jambi. Dan ada juga candi induk,berukuran 11,5 x 11,5 meter berada didepan Candi Perwara (penampil). Candi Induk ni memiliki tangga pada bagian timurnya.
 
Candi Gedong I 
Gbr. candi Gedong I
Candi Gedong II
Gbr. candi Gedong II

Candi Gedong yang terdiri dari dua bagian yakni Gedong 1 dan Gedong 2. Keduanya sangat berdekatan lokasinya sekitar 150 meter. Candi ini terletak sekitar 1.450 meter dari sebelah timur Candi Kedaton, sama-sama memiliki struktur tangga di sebelah timur. Candi Gedong 1 sangat unik, dibangunan yang berbentuk bujur sangkar ini banyak dijumpai temuan lepas purbakala seperti mata uang kepeng dari Cina sebanyak 161 buah, peralatan keagamaan, bata berprofil, bata bertekuk,dll.

Candi Koto Mahligai 
Candi ini masih dalam tahap pemugaran, Lokasi kompleks candi terletak paling barat dari gugusan percandian Muaro Jambi. Dari pusat kunjungan wisata situs purbakala Muaro Jambi berjarak ± 4 km, yang secara administratif terletak di wilayah Desa Danau Lamo kecamatan Muarosebo.  Pada kompleks candi terdapat candi induk  dan perwara, selain itu juga terdapat sisa-sisa dinding tembok suatu bangunan yang terdiri dari beberapa ruangan. wilayah dengan luas ± 10.850ini juga di kelilingi pagar tembok. Pada halaman ini pernah ditemukan 2 (dua) buah Archa gajah, satu diantaranya berupa gajah singa seperti yang ditemukan di candi Gedong II. kedua Archa tersebut telah dipindahkan dan disimpan di Museum situs yang berada dalam kawasan komplek percandian Muaro Jambi.


Kolam Telago Rajo
Gbr. kolam Telago Rajo


Sekitar 100 meter arah tenggara candi Gumpung terdapat sebuah kolam yang dikenal dengan nama kolam Telago Rajo. Kolam ini terbuat dari gunduhan tanah yang berbentuk persegi panjang ukuran 130 X 100 meter, kedalaman kolam ini jika dihitung dari permukaan gundukan tanah adalah 2-3 meter, namun hanya setengah dari kedalaman tersebut yang digenangi air. Keberadaan kolam yang ditemukan pada tahun 1970 diperkirakan berfungsi sebagai waduk kontrol air agar tidak menggenangi candi dan sebagai tempat persediaan air bersih pada masa lalu. Selain kolam Telago rajo juga terdapat kanal-kanal kuno yang tersebar di sekitar beberapa candi.